<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846</id><updated>2011-11-28T06:58:10.177+07:00</updated><category term='http://www.blogger.com/img/gl.align.full.gif'/><title type='text'>Islamic Lifestyle</title><subtitle type='html'>Islam sebagai Pedoman hidup</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>sigitkputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11637905021197640459</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i231.photobucket.com/albums/ee260/sigitkputra/sigit05.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>21</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-498061708502968848</id><published>2008-08-26T20:01:00.002+07:00</published><updated>2008-08-26T20:49:20.107+07:00</updated><title type='text'>Yaa Ikhwan....Yaa Akhwat....!!</title><content type='html'>Bismillah...&lt;br /&gt;"Assalmualaykum akh.bla..bla..bla..!!" or "Assalamualaykum ukhti..bla..bla...", mungkin anda pernah mendapatkan sms semacam itu dari seseorang yang anda kenal selama ini. Sapaan khas pembuka dari aktivis da'wah saat ber-sms. Tidak ada yang salah dari kalimat2 tersebut, namun bisa juga menjadi salah penafsiran manakala kalimat2 tersebut di tunjukkan kepada seseorang(lawan jenis yg bukan muhrim), apalagi jika dilakukan secara terus menerus dengan harapan mendapatkan simpati dari seseorang yang dimaksud. Ikhwah wa akhwat fillah, fenomena tersebut benar2 nyata dan terjadi di masyarakat kita saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari sebuah pesan singkat, dan berkemungkinan menjadi suatu perbuatan yang dilarang oleh syariat. Hubungan yang terus menerus tanpa ada hijab yang membatasi keduanya bisa membuat sesuatunya tersebut dianggap menjadi hal yang biasa. Sama seperti halnya klo kita melakukan suatu perbuatan dosa yg terus menerus maka perbuatan itu akan menjadi biasa di mata orang tsb, sehingga kemungkinan tuk berbuat dosa lebih besar lagi semakin dekat sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ إِنَكَ تَعْلَمُ اَنَّ هَذِهِ اْلقُلُوْبَ قَدِ اجْتَمَعَتْ عَلَى مَحَبَّتِكَ وَالْتَقَتْ عَلَى طَاعَتِكَ وَتَوَحَّدَتْ عَلَى دَعْوَتِكَ وَتَعَاهَدَتْ عَلَى نُصْرَةِ شَرِيْعَتِكَ فَوَثِّقِ اللَّهُمَّ رَابِطَتَهَا وَاَدِّمْ وُدَّهَا وَاهُدِهَا سُبُوْلَهَا وَامْلَأْهَا بِنُوْرِكَ الَّذِيْ لاَ يَخْبُوْ وَاشْرَحْ صُدُرَهَا بِفَيْضِ الْإِيْمَانِ بِكَ وَجَمِيْلِ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ وَاَحْيِهَا بِمَعْرِفَتِكَ وَاَمِتْهَا عَلَى شَهَادَةِ فِيْ سَبِيْلِكَ إِنَّكَ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْم النَّصِيْرُ, اَللَّهُمَّاَمِيْنض. وَصَلِّ اللَّهُمََّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Tahu bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam kecintaan kepada-Mu, telah berjumpa dalam menaati-Mu, telah bersatu dalam da’wah kepada-Mu, telah terjalin dalam membela syari’at-Mu. Maka teguhkanlah, ya Allah, ikatannya; kekalkanlah kasih sayangnya; tunjukilah jalan-jalannya; penuhilah hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah sirna; lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman kepada-Mu dan indahnya kepasrahan kepada-Mu; dan matikanlah ia di atas kesyahidan di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya Allah, kabulkanlah. Dan, curahkanlah kesejahteraan dan kedamaian kepada baginda kami Muhammad SAW., serta kepada keluarga dan para shahabat beliau”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit goresan pena ini hanya untuk mengingatkan diri pribadi yang masih banyak kekurangan dan rekan2 semua yang berusaha tuk tetap Istiqomah di jalan dakwah ini. Ikhwa wa akhwat fillah, mari segera niatkan kembali tuk tetap hanif di jalan dakwah ini &amp;amp; berusaha tuk tetap istiqomah membawa bendera Islam, sehingga menjadi rahmatan lil alamin bagi semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekasi, 23 Syaban 1429H&lt;br /&gt;21:53 WIB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-498061708502968848?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/498061708502968848/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=498061708502968848' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/498061708502968848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/498061708502968848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/08/yaa-ikhwanyaa-akhwat.html' title='Yaa Ikhwan....Yaa Akhwat....!!'/><author><name>Kang Djoko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09624996397693297332</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-8464479605710973850</id><published>2008-07-10T18:59:00.001+07:00</published><updated>2008-07-10T19:01:13.591+07:00</updated><title type='text'>Bioskop di Jakarta Pun Dulu Pisahkan Pria dan Wanita</title><content type='html'>&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/bioskop.jpg" alt="" align="right" width="180" /&gt;&lt;a href="http://www.eramuslim.com/berita/tha/8703133007-bioskop-jakarta-pun-dulu-pisahkan-pria-dan-wanita.htm"&gt;Eramuslim.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di zaman sekarang, bukan hal yang mengejutkan lagi jika ada yang mengatakan jika bioskop merupakan salah satu wahana yang sering disalahgunakan sebagai tempat melakukan kemaksiatan. Namun tahukah Anda jika di zaman dahulu, di Jakarta, bioskop sesungguhnya sudah mengantisipasi hal ini, agar tidak disalahgunakan, dengan memisahkan tempat duduk antara yang pria dengan wanita.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam buku kecilnya berjudul “Nostalgia di Jakarta: Cuplikan Kisah-Kisah ‘Edan’ Seputar Jakarta di Masa Lalu” (Javamedia: Juni 2008) yang ditulis oleh Zaenuddin HM, seorang jurnalis senior kelahiran Betawi yang kini aktif di salah satu harian nasional, ditulis salah satu fakta yang sangat menarik tentang bioskop di &lt;i&gt;Djakarta Tempo Doeloe&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pada halaman 31 dengan judul tulisan “Pulang Nonton Bioskop, Suami-Isteri Berpisah” ditulis bahwa dahulu kala di Jakarta belum banyak berdiri bioskop seperti sekarang ini. Zaenuddin HM menulis, “Sejak tahun 1900-an dunia film Indonesia sudah ada dan mulai tumbuh. Di Jakarta khususnya, film diputar melalui bioskop keliling. Waktu itu memang belum ada gedung bioskop permanen. Lagi pula film-film yang diputar kala itu masih jenis film &lt;i&gt;gagu&lt;/i&gt; alias tidak ada suara dan dialog di dalam ceritanya…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Suatu waktu, di dekat Lapangan Ikada (kini kawasan Monas), didirikanlah sebuah bioskop yang sangat sederhana. Lalu kemudian berdiri pula beberapa bioskop dengan kondisi yang lebih baik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Yang unik dari bioskop-bioskop di Jakarta tempo dulu itu adalah tempat duduknya. Kenapa? Sebab tempat duduknya dipisah, untuk penonton pria ataupun wanita. Pemisahannya berupa lorong yang membelah sepanjang tengah-tengah bangsal dari depan dan belakang. Mengapa sampai dipisah, mungkin karena pertimbangan moral saat itu, ” lanjut Zaenuddin HM.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Uniknya lagi, dan ini bisa bikin kita tertawa, seringkali ketika bioskop bubar, banyak pasangan suami-isteri saling mencari dan terpaksa teriak-teriak, bahkan tak jarang ada yang pulang sendiri-sendiri lantaran tidak bersua juga. “Akibatnya bisa fatal, setelah pulang dari bioskop, di rumah bukannya tambah mesra justru bertengkar dan saling menyalahkan. &lt;i&gt;Wah&lt;/i&gt;, bisa gawat. Itulah nostalgianya, ” tulis Zaenuddin HM sebagai penutup tulisan tersebut. Lucu? Memang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Namun sebenarnya dari tulisan itu kita bisa memetik hikmah bahwa sebenarnya jika pemerintah memiliki niat baik, tidak ada salahnya meneladani sistem gedung bioskop di zaman &lt;i&gt;baheula&lt;/i&gt; ini. Di bidang transportasi pernah diuji coba pemisahan antara penumpang pria dan wanita di gerbong kereta api listrik yang berbeda, walau tidak maksimal, karena memang tidak dipersiapkan secara matang oleh pemerintah. Jika dipersiapkan secara matang akan lain soalnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kerusakan moral masyarakat kita ini sudah kelewat batas. Sebab itu, pemerintah hendaknya mau lebih giat bersikap pro-aktif dalam memberantas penyakit masyarakat ini dengan langkah-langkah yang nyata. Tentunya dengan juga didukung oleh kesadaran masyarakat di mana kesadaran itu hendaknya berangkat dari upaya pencerahan, bukan pemaksaan atau malah kekerasan. Mungkin ada di antara partai politik yang akan bertarung di Pemilu 2009 yang memiliki agenda seperti di atas jika menang nanti? Wallahu’alam.(rz)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-8464479605710973850?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/8464479605710973850/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=8464479605710973850' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/8464479605710973850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/8464479605710973850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/bioskop-di-jakarta-pun-dulu-pisahkan.html' title='Bioskop di Jakarta Pun Dulu Pisahkan Pria dan Wanita'/><author><name>srirahayu83</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14781626802008140467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_SCXifCbU5fI/SFD9VtaP3OI/AAAAAAAAAAM/kZCh4tM-doo/S220/DSC00488.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-8223912769839662770</id><published>2008-07-10T13:02:00.000+07:00</published><updated>2008-07-10T13:04:34.518+07:00</updated><title type='text'>10 Pertanda Hati yang Sakit</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Posted July 8th, 2008 by &lt;a href="http://www.dhuha.net/id/content/islam/islam/sepuluh-pertanda-hati-yang-sakit"&gt;roemasa&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;img alt="heartsick" src="http://www.dhuha.net/files/download/heartsick.jpg" style="border: 0px solid ; margin: 1px;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. Kita mempercayai Allah SWT namun kita tidak mematuhi perintah-Nya.&lt;br /&gt;2. Kita mengatakan bahwa kita cinta Rasulullah SAW namun kita tidak mengikuti sunnah Beliau.&lt;br /&gt;3. Kita membaca Al-Qur'an namun kita tidak mempraktekkan nilai-nilai didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kita menikmati semua pemberian Allah SWT namun kita tidak mensyukurinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kita tahu bahwa setan adalah musuh kita namun kita tidak melawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kita ingin masuk surga namun kita tidak berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memasukinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Kita tidak ingin dilempar dalam api neraka namun kita tidak berusaha dengan sungguh untuk menghindarinya (misal dengan berbuat baik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kita percaya bahwa tiap makhluk hidup pasti akan mati namun kita tidak pernah menyiapkan diri menghadapi kematian tersebut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; 9. Kita sibuk bergosip membicarakan orang lain dan mencari tahu kekurangan mereka namun kita lupa akan kesalahan dan kekurangan kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Kita ikut menguburkan yang mati namun kita tidak mengambil pelajaran dari yang sudah mati itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-8223912769839662770?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/8223912769839662770/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=8223912769839662770' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/8223912769839662770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/8223912769839662770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/10-pertanda-hati-yang-sakit.html' title='10 Pertanda Hati yang Sakit'/><author><name>sigitkputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11637905021197640459</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i231.photobucket.com/albums/ee260/sigitkputra/sigit05.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-6324813065356789912</id><published>2008-07-10T13:00:00.000+07:00</published><updated>2008-07-10T13:02:22.987+07:00</updated><title type='text'>CARA MAKAN RASULULLAH</title><content type='html'>Sumber: &lt;a href="http://www.islamhouse.com/p/5606"&gt;islamhouse&lt;/a&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;strong&gt;POLA MAKAN RASULULLAH&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;Jika kita mengamati pola makan Rasulullah &lt;em&gt;shallallahu alaihi wa sallam&lt;/em&gt;. Maka kita akan dapati bahwa beliau mengumpulkan beberapa aspek, diantaranya aspek faidah, kenikmatan dan penjagaan terhadap kesehatan, seperti yang ditetapkan oleh ilmu kedokteran baik dulu maupun sekarang, bahwa mengkonsumsi makanan secara berlebihan akan mengakibatkan berbagai penyakit, dan beliau tidak pernah makan hingga kekenyangan, beliau bersabda: &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 16pt;" traditional="" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-family:Monotype Corsiva;"&gt;بحسب ابن آدم لقيمات يقمن صلبه&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;"Cukuplah  bagi manusia untuk mengkonsumsi beberapa suap makanan saja untuk menegakkan tulang sulbinya (rusuknya).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;Akan tetapi manusia secara tabiat enggan untuk menkonsumsi makan dengan pola ini dan mungkin kebanyakan kita tidak mampu untuk melakukannya ,   jika demikian keadaannya, maka diperbolekan makan tapi hendaknya jangan melebihi sepertiga dari perut kita, sebagaimana sabda beliau: &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 16pt;" traditional="" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-family:Monotype Corsiva;"&gt;فإن لم يكن فثلث لطعامه وثلث لشرابه وثلث لنفسه&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;"Jika tidak bisa demikian, maka hendaknya ia memenuhi sepertiga lambungnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk bernafas".&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;Ibnul Qayyim &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; membagi tingkat makanan menjadi tiga tingkatan:&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; direction: ltr; text-indent: -18pt; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;1-&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-style: normal; font-variant: normal;" times="" new=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Tingkat kebutuhan: yaitu seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;"Cukuplah  bagi manusia untuk mengkonsumsi beberapa suap makanan saja untuk menegakkan tulang rusuknya" &lt;/em&gt; Jika tidak mampu menahan dirinya untuk menkonsumsi lebih maka ia berpindah ke tingkat berikutnya yaitu&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; direction: ltr; text-indent: -18pt; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;2-&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-style: normal; font-variant: normal;" times="" new=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Tingkatan cukup: yaitu mengisi sepertiga perutnya untuk untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk bernafas, dan hikmah dibalik itu dikarenakan perut kita mempunyai kapasitas yang sangat tebatas dan jika semuanya dipenuhi dengan makanan maka maka tidak ada tempat lagi untuk minum dan sulit benafas &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; direction: ltr; text-indent: -18pt; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;3-&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-style: normal; font-variant: normal;" times="" new=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Adapun tingkat ketiga adalah tingkat berlebihan: tingkat ini bisa membahayakan dirinya tanpa ia sadari, dan hal ini banyak dialami oleh kita, dan kebanyakan orang yang  terjangkit penyakit gula, depresi, kegemulkan, jantungan dan struk tidak lain adalah disebabkan karena mereka tidak mengatur pola makan mereka dengan baik, serta berlebihan dalam makan dan minum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;Berikut ini beberapa tata cara dan adab makan yang dianjurkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; direction: ltr; text-indent: -18pt; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;1-&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-style: normal; font-variant: normal;" times="" new=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Membaca basmalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 16pt;" traditional="" lang="AR-SA"&gt;بسم الله&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;"&gt;)&lt;/span&gt;  sebelum makan, dan jika lupa maka membaca: &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-right: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;" traditional="" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-family:Monotype Corsiva;"&gt;بسم الله أوله وآخره&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;"Dengan menyebut nama Allah pada awal dan akhirnya"&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;2- Duduk dengan baik tegap dan tidak menyandar, karena hal itu lebih baik bagi lambung sehingga makanan akan turun dengan sempurna. Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah melarang kita untuk makan sambil bersandar&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Monotype Corsiva;"&gt;. .&lt;span dir="rtl" style="" traditional="" lang="AR-SA"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 16pt;" traditional="" lang="AR-SA"&gt;قال رسول الله صلى الله علية وسلم ((لا آكل متكئاً)) رواه البخاري...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;Beliau bersabda: "Sesungguhnya aku tidak makan dengan bersandar"&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;3- Mencucui tangan sebelum makan, sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; direction: ltr; text-indent: -18pt; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;4-&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-style: normal; font-variant: normal;" times="" new=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Menggunakan tangan kanan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; direction: ltr; text-indent: -18pt; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;5-&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-style: normal; font-variant: normal;" times="" new=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Bersikap sederhana dan tidak berlebih-lebihan ketika  makan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; direction: ltr; text-indent: -18pt; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;6-&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-style: normal; font-variant: normal;" times="" new=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Memulai makan dari yang dekat dan tidak memenuhi mulut dengan makanan yang banyak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; direction: ltr; text-indent: -18pt; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;7-&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-style: normal; font-variant: normal;" times="" new=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Tidak banyak bicara ketika sedang makan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; direction: ltr; text-indent: -18pt; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;8-&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-style: normal; font-variant: normal;" times="" new=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Disunnahkan untuk makan secara berjamaah dan tidak berpencar sendiri-sendiri,karena jamaah akan mempererat persaudaraan dan menyebabkan turunnya barokah pada makanan kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; direction: ltr; text-indent: -18pt; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;9-&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-style: normal; font-variant: normal;" times="" new=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Ketika makan berjamaah dalam satu tempat makan maka jangan mengembalikan apa yang tersisa ditangan ke tempat makan, akan tetapi ambilah suapan yang sedikit hingga tidak bersisisa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; direction: ltr; text-indent: -18pt; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;10-&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-style: normal; font-variant: normal;" times="" new=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Tidak mengeluarkan suara keras ketika mengunyah makanan, karena hal itu mengganggu orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; direction: ltr; text-indent: -18pt; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;11-&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-style: normal; font-variant: normal;" times="" new=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Jangan mengawasi dan melihat-lihat orang yang sedang makan, karena hal itu mengganggu perasaan mereka, dan mengurangi selera makan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; direction: ltr; text-indent: -18pt; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;12-&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-style: normal; font-variant: normal;" times="" new=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Tidak menyisakan makanan dipiring, bahkan kita dianjurkan untuk membersihkan tangan dan jari-jari kita dengan mulut ketika selesai makan,dan jika ada makanan yang jatuh supaya dipungut dan dibersihkan kemudian dimakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; direction: ltr; text-indent: -18pt; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;13-&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-style: normal; font-variant: normal;" times="" new=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Membaca hamdalah dan doa setelah makan:   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span dir="rtl" style="font-size: 16pt;" traditional="" lang="AR-SA"&gt;&lt;span style="font-family:Monotype Corsiva;"&gt;الحمد الله الذي أطعمني هذا ورزقنيه من غير حول مني ولا قوة&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" style="" traditional="" lang="AR-SA"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt; &lt;em&gt;Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan menganugerahkannya kepadaku tanpa susah payah.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 36pt; direction: ltr; text-indent: -18pt; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;14-&lt;span style="font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-style: normal; font-variant: normal;" times="" new=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;Mencuci tangan setelah makan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt;Inilah beberapa tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dalam makan dan minum, semoga kita bisa mengikuti petunjuk dan meniti jejaknya, &lt;em&gt;amin- ya Rabbal 'alamin. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-left: 18pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed; text-align: left;"&gt; &lt;em&gt;Disadur dari tulisan. Ustadzah Fahd At Tuwim&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-6324813065356789912?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/6324813065356789912/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=6324813065356789912' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/6324813065356789912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/6324813065356789912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/cara-makan-rasulullah.html' title='CARA MAKAN RASULULLAH'/><author><name>sigitkputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11637905021197640459</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i231.photobucket.com/albums/ee260/sigitkputra/sigit05.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-3436634598009838219</id><published>2008-07-10T11:53:00.000+07:00</published><updated>2008-07-10T11:57:45.632+07:00</updated><title type='text'>Lapisan-Lapisan Atmosfer</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://www.keajaibanalquran.com/earth_layers.html"&gt;sumber: keajaiban Al-qur'an.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Satu fakta tentang alam semesta sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an   adalah bahwa langit terdiri atas tujuh lapis.   &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="ayet"&gt;"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan   Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."   (Al Qur'an, 2:29)  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="ayet"&gt;"Kemudian Dia menuju langit, dan langit itu masih merupakan asap.   Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya."   (Al Qur'an, 41:11-12)  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kata "langit", yang kerap kali muncul di banyak ayat dalam Al Qur’an, digunakan untuk mengacu pada "langit"   bumi dan juga keseluruhan alam semesta. Dengan makna kata seperti ini, terlihat bahwa langit bumi atau atmosfer   terdiri dari tujuh lapisan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saat ini benar-benar diketahui bahwa atmosfir bumi terdiri atas lapisan-lapisan yang berbeda yang saling bertumpukan.   Lebih dari itu, persis sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, atmosfer terdiri atas tujuh lapisan.   Dalam sumber ilmiah, hal tersebut diuraikan sebagai berikut:  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Para ilmuwan menemukan bahwa atmosfer terdiri diri beberapa lapisan.   Lapisan-lapisan tersebut berbeda dalam ciri-ciri fisik, seperti tekanan dan jenis gasnya.   Lapisan atmosfer yang terdekat dengan bumi disebut TROPOSFER.   Ia membentuk sekitar 90% dari keseluruhan massa atmosfer.   Lapisan di atas troposfer disebut STRATOSFER.   LAPISAN OZON adalah bagian dari stratosfer di mana terjadi penyerapan sinar ultraviolet.   Lapisan di atas stratosfer disebut MESOSFER. . TERMOSFER berada di atas mesosfer.   Gas-gas terionisasi membentuk suatu lapisan dalam termosfer yang disebut IONOSFER.   Bagian terluar atmosfer bumi membentang dari sekitar 480 km hingga 960 km.   Bagian ini dinamakan EKSOSFER.  .&lt;br /&gt;&lt;span class="anasayfa"&gt;(Carolyn Sheets,              Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon              Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 319-322)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika kita hitung jumlah lapisan yang dinyatakan dalam sumber ilmiah tersebut, kita ketahui   bahwa atmosfer tepat terdiri atas tujuh lapis, seperti dinyatakan dalam ayat tersebut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. Troposfer&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;2. Stratosfer&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;3. Ozonosfer&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;4. Mesosfer&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;5. Termosfer&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;6. Ionosfer&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;7. Eksosfer&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Keajaiban penting lain dalam hal ini disebutkan dalam surat Fushshilat ayat ke-12, "…  Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya." Dengan kata lain, Allah dalam ayat   ini menyatakan bahwa Dia memberikan kepada setiap langit tugas atau fungsinya masing-masing.   Sebagaimana dapat dipahami, tiap-tiap lapisan atmosfir ini memiliki fungsi penting yang bermanfaat   bagi kehidupan umat manusia dan seluruh makhluk hidup lain di Bumi. Setiap lapisan memiliki fungsi   khusus, dari pembentukan hujan hingga perlindungan terhadap radiasi sinar-sinar berbahaya; dari   pemantulan gelombang radio hingga perlindungan terhadap dampak meteor yang berbahaya.                                                                                  &lt;/p&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img src="http://www.keajaibanalquran.com/files/atmosfer_ind.jpg" width="150" height="176" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span class="resimalti"&gt;Bumi memiliki seluruh sifat yang diperlukan bagi kehidupan.   Salah satunya adalah keberadaan atmosfir, yang berfungsi sebagai lapisan pelindung yang melindungi makhluk   hidup. Adalah fakta yang kini telah diterima bahwa atmosfir terdiri dari lapisan-lapisan berbeda yang tersusun   secara berlapis, satu di atas yang lain. Persis sebagaimana dipaparkan dalam Al Qur’an, atmosfir terdiri dari tujuh   lapisan. Ini pastilah salah satu keajaiban Al Qur’an.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Salah satu fungsi ini, misalnya, dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Atmosfir bumi memiliki 7 lapisan. Lapisan terendah dinamakan troposfir. Hujan, salju, dan angin   hanya terjadi pada troposfir. &lt;br /&gt;&lt;span class="anasayfa"&gt;(http://muttley.ucdavis.edu/Book/Atmosphere/beginner/layers-01.html)              &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Adalah sebuah keajaiban besar bahwa fakta-fakta ini, yang tak mungkin ditemukan tanpa teknologi   canggih abad ke-20, secara jelas dinyatakan oleh Al Qur’an 1.400 tahun yang lalu.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-3436634598009838219?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/3436634598009838219/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=3436634598009838219' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/3436634598009838219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/3436634598009838219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/lapisan-lapisan-atmosfer.html' title='Lapisan-Lapisan Atmosfer'/><author><name>sigitkputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11637905021197640459</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i231.photobucket.com/albums/ee260/sigitkputra/sigit05.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-3099357579755274720</id><published>2008-07-10T11:38:00.000+07:00</published><updated>2008-07-10T11:53:26.121+07:00</updated><title type='text'>PENGETAHUAN AL QUR'AN</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;sumber : &lt;a href="http://www.keajaibanalquran.com/knowledge.html"&gt;keajaiban Al-Qur'an.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Semua yang telah kita pelajari sejauh ini memperlihatkan kita akan   satu kenyataan pasti: Al Qur'an adalah kitab yang di dalamnya berisi   berita yang kesemuanya terbukti benar. Fakta-fakta ilmiah serta berita   mengenai peristiwa masa depan, yang tak mungkin dapat diketahui di masa   itu, dinyatakan dalam ayat-ayatnya. Mustahil informasi ini dapat diketahui   dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi masa itu. Ini merupakan   bukti nyata bahwa Al Qur'an bukanlah perkataan manusia. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;  Al Qur'an adalah kalam Allah Yang Maha Kuasa, Pencipta segala sesuatu dari ketiadaan.   Dialah Tuhan yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dalam sebuah ayat, Allah menyatakan   dalam Al Qur'an  &lt;span class="ayet"&gt; "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ? Kalau kiranya Al Qur'an   itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." (Al Qur'an, 4:82)&lt;/span&gt;   Tidak hanya kitab ini bebas dari segala pertentangan, akan tetapi setiap penggal   informasi yang dikandung Al Qur'an semakin mengungkapkan keajaiban kitab   suci ini hari demi hari. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apa yang menjadi kewajiban manusia adalah untuk berpegang teguh pada kitab   suci yang Allah turunkan ini, dan menerimanya sebagai satu-satunya petunjuk hidup.   Dalam salah satu ayat, Allah menyeru kita: &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ayet"&gt;"Dan Al Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka   ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat." (Al Qur'an, 6:155) &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam beberapa ayat-Nya yang lain, Allah menegaskan: &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ayet"&gt;"Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa   yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir."   (Al Qur'an, 18:29)   &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ayet"&gt;"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu   peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya." (Al Qur'an, 80:11-12)          &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-3099357579755274720?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/3099357579755274720/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=3099357579755274720' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/3099357579755274720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/3099357579755274720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/pengetahuan-al-quran.html' title='PENGETAHUAN AL QUR&apos;AN'/><author><name>sigitkputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11637905021197640459</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i231.photobucket.com/albums/ee260/sigitkputra/sigit05.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-2334737948913296023</id><published>2008-07-09T12:26:00.001+07:00</published><updated>2008-07-09T12:26:43.786+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='http://www.blogger.com/img/gl.align.full.gif'/><title type='text'>Urgensi dan Manajemen Dakwah Kampus</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Hudzaifah.org - &lt;/strong&gt;Urgensi pemolaan manajemen Dakwah Kampus (membuat Dakwah Kampus yang terpola, red) bukanlah semata-mata karena tuntutan modernitas. Seolah-olah menjadi kelatahan apabila muncul sebuah kesadaran untuk lebih komprehensif mem-pola-kan Dakwah Kampus dalam rumusan-rumusan yang menjadi tradisi masyarakat modern. Padahal memenej Dakwah Kampus adalah sebuah sunnatullah bagi siapa saja yang ingin seruannya menjadi kiblat yang digugu, ditiru, dan dipanuti. Jadi membuat nidzham yang sistemik dan pemprograman yang jelas merupakan kewajiban bagi setiap rijalud dakwah yang bermujahadah. Artinya, mentakwin ummat, membentuk generasi rabbani, dan menuju khairu ummah, bukanlah membangun kerajaan pendeta, rezim junta militer yang facistis, atau sekedar membuat konfrensi internasional. Akan tetapi risalahnya adalah mewujudkan pemahaman yang syamil (tidak juz’i) pada setiap diri muslim sekaligus mengejawantahkannya pada peradaban yang lengkap (tidak sektoral). Ali Ra pernah berkata: Al Haq yang tidak ternidzham akan dikalahkan oleh al bathil yang ternizham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampus adalah komunitas kecil yang merepresentasikan sebuah negara dalam skala mini. Kampus juga bisa dipandang sebagai pusat informasi yang paling cepat mengolah data menjadi konseo-konsep yang siap diterapkan di tengah masyarakat. Kampus adalah sebuah wahana yang mampu membahas segala permasalahan secara komprehensif melalui pendekatan multi dimensional. Dari sisi rekrutmen, kampus merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang berpotensi menjadi penentu kebijakan di masa datang. Bahkan pada saat-saat tertentu kampus dapat juga menjadi faktor yang ikut menentukan perubahan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya kampus dapat dijadikan sebagai sebuah laboratorium untuk menelurkan berbagai konsep. Sekaligus berfungsi pula sebagai sarana latihan bagi para rijalud dakwah dalam menerapkan konsep-konsep tersebut. Homogenitas komunitas kampus justru bisa menjadi kekuatan untuk menguji seberapa handal kualitas sumber daya manusia yang ada dan seberapa bagus konsep yang ditelurkan. Sesungguhnya pergesekan elit dan perdebatan konsep terjadi pada masyarakat yang berpendidikan tinggi. Sementara, untuk menghindari kecenderungan untuk menjadi elitis harus dirumuskan kegiatan-kegiatan yang menyentuh langsung masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Manajemen Dakwah Kampus&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila telah muncul persamaan persepsi pada diri setiap rijalud dakwah tentang urgensi dakwah kampus, amat penting untuk segera dipetakan permasalahan yang ada. Di sinilah perlunya para rijalud dakwah yang memiliki kemampuan manajerial tinggi. Selain itu perlu juga dikerahkan rijalud dakwah dari beragam disiplin ilmu untuk dapat mendekati permasalahan secara multi dimensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini pengelolaan dakwah kampus lebih nampak sebagai sebuah paguyuban. Lembaga musholla, rohani islam, atau lembaga dakwah kampus menunjukkan kekeluargaan yang tinggi dan mampu mengikat banyak orang. Akan tetapi pengelolaan organisasinya cenderung tradisional. Ketergantungan akan figur masih sangat tinggi, sementara sistemnya-kalau tidak bisa dibilang amburadul-sangat lemah. Lembaga lainnya di kampus nampak memiliki kecenderungan yang tinggi untuk melahirkan nidzham yang sistemik. Dalam hal profesionalitas dan etos kerja, harus diakui bahwa para rijalud dakwah masih kalah dengan para pialang peradaban barat, minimal dalam hal performance-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya hal pertama yang harus disosialisasikan adalah urgennya diselenggarakan diklat-diklat Manajemen Dakwah Kampus di setiap kampus. Mulai dari tingkat universitas, fakultas, unit-unit kegiatan, sampai jurusan-jurusan. Harus dirumuskan sebuah paket standard dalam bentuk modul atau diktat yang menjadi tolak ukur bagi peningkatan sumber daya manusia para rijalud dakwah. Paket tersebut meliputi &lt;strong&gt;Manhaj Dakwah Kampus, tarbiyah ruhiyah, fiqhud dakwah, fiqhul waqi’i, dauroh murabbi, dauroh sospol, dauroh akademik, dauroh ijtima’iyyah, dan ketrampilan manajemen dakwah&lt;/strong&gt;. Pada hakekatnya paket-paket ini merupakan dauroh tarqiyah yang dikemas secara menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen Dakwah Kampus dapat dijabarkan sebagai kiat-kiat, teknik, panduan, juklak, atau bahkan model-model dan format kegiatan yang bersifat kongkret. Manajemen Dakwah Kampus merupakan turunan langsung dari konsep dasar yang bersifat abstrak seperti yang termaktub dalam materi fiqhud dakwah. Diharapkan para rijalud dakwah memiliki bekal kemampuan praktis seperti, merumuskan masalah, komunikasi massa, teknik negoisasi, berpikir alternatif, manajemen strategi, rekayasa sospol, manajemen rapat, manajemen issu dan opini publik, networking, pengembangan kreatifitas, membuat keputusan, dan penerapannya dalam sebuah organisasi. Minimal seorang rijalud dakwah memiliki kemahiran mengelola sebuah kepanitiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapannya adalah semakin banyak dihasilkan konsep-konsep terapan yang siap pakai di lapangan akan semakin banyak pula praktisi yang siap bekerja untuk dakwah. Suatu saat tidak ada lagi prinsip “yang penting kerja” akan tetapi telah berubah menjadi “yang penting kerja dengan ihsan”. Suatu saat juga tidak ada lagi pertanyaan “bagaimana ?” ketika seseorang diamanahkan sebuah pekerjaan. Dan akhirnya tidak ada lagi orang yang tidak bekerja, bukan karena tidak mau bekerja, tetapi tidak tahu apa yang mesti dikerjakannya dan atau tidak mampu mengerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fiqhud Dakwah sebagai Konsep Dasar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemolaan Manajemen Dakwah di kampus membutuhkan landasan fiqh yang diartikulasikan secara segar dan aktual. Keluasan dan keluwesan ajaran Islam amat mendesak untuk diperdalam bagi para rijalud dakwah yang kebetulan menjadi elit kampus. Manuver-manuver politik begitu cepat berseliweran di depan mata. Pergolakan pemikiran menjadi dinamika civitas akademikanya. Selalu saja ada informasi baru yang mengguncangkan. Sementara generasi baru yang ”hedon-norak” itu begitu aktifnya menjadi pialang-pialang yang membawa kebudayaan barat di kampus. Perubahan-perubahan yang begitu cepat dan dinamika serta pergesekan dan persaingan yang begitu tajam menjadi ciri obyek dakwah (mad’u) di dunia kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perumusan fiqhud dakwah kampus amatlah penting. Hal ini berkaitan dengan kebijakan dan perilaku para rijalud dakwah di kampus. Kesalahan, kerancuan, kedangkalan, dan kesempitan pemahaman akan berakibat fatal pada wajah dakwah kampus. Seringkali citra dakwah tertutupi oleh juru dakwahnya sendiri. Kecenderungan &lt;u&gt;menghakimi&lt;/u&gt; terkadang masih mewarnai sebuah kebijakan. Kurang tasamuh terhadap keberagaman dan cenderung &lt;u&gt;saklak&lt;/u&gt; atau &lt;u&gt;hitam-putih&lt;/u&gt; dalam memecahkan masalah. Padahal kompleksitas masyarakat modern semakin menuntut pola berpikir alternatif dalam menawarkan solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman akan fiqhul ikhtilaf yang senantiasa mendahulukan sisi positif (husnudzh dzhon) terhadap setiap orang dan kelompok serta mengkaitkan sisi-sisi positif tersebut dalam bangunan dakwah masih kurang sekali. Belum cukup kesadaran bahwa setiap rijalud dakwah harus mendorong terciptanya link-link dengan berbagai golongan dan kalangan serta beramal jama’I atas apa-apa yang disepakati bersama. Belum cukup usaha untuk menggerakkan partisipasi aktif masyarakat ammah dan keterkaitan semua unsur sebagai pendukung harakah. Hingga muncullah tuduhan-tuduhan seperti &lt;u&gt;sok suci&lt;/u&gt;, &lt;u&gt;penguasa kebenaran&lt;/u&gt;, atau &lt;u&gt;facisme religius&lt;/u&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya di tingkat pemahaman perlu pembenahan dan penjernihan agar ada kesatuan pandang dan bahasa yang sama dari para rijalud dakwah. Kesenjangan dan perbedaan persepsi bisa menjadi potensi tafaruq di lapangan. Konsep-konsep seperti &lt;u&gt;manhaj, uslub, harakah, tarbiyah, halaqoh, liqo, ikhwan, akhwat, futur&lt;/u&gt; dan lainnya, telah mengalami bias, direduksi sebatas idiom dan &lt;strong&gt;disalahkaprahi sebagai satuan-satuan yang kategoris&lt;/strong&gt;. Maka muncullah verbalisme yang pada gilirannya menghambat komunikasi dengan masyarakat ammah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hal yang amat mendesak untuk dikaji, dirumuskan, dan disosialisasikan adalah &lt;strong&gt;fiqhul waqi’i&lt;/strong&gt;. Seiring dengan makin besarnya jumlah rijalud dakwah maka terbukalah peluang-peluang dakwah yang selama ini tak terbayangkan. Semangat untuk merambah ke berbagai sektor kehidupan-“yang tercermin dengan diambil alihnya berbagai posisi strategis lembaga kemahasiswaan di kampus”-seharusnya diiringi oleh bacaan yang kuat terhadap situasi dan kondisi lahan yang akan digarap. Kalau tidak, akan terjadi fitnah dan inqilabiyah yang dipaksakan (isti’jal). Manuver-manuver yang dilakukan menjadi tidak smooth. &lt;strong&gt;Dan sudah menjadi karakter masyarakat kampus yang tidak suka terhegemonik&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan utama akan fiqhul waqi’i adalah dalam pembuatan konsep. Oleh karenanya para konseptor yang lazimnya duduk di &lt;strong&gt;majelis syuro&lt;/strong&gt; adalah orang-orang yang matang dalam pemahaman akan fiqhul waqi’i, cukup jam terbangnya pada medan dakwah yang akan diterjuni, dan memiliki penguasaan terhadap disiplin ilmu yang berkaitan erat dengan permasalahan-permasalahan obyek dakwahnya. Tentulah amat sulit menemukan tiga hal tersebut sekaligus dalam diri seseorang. Selain itu, skala yang membesar dan kompleksitas yang meningkat membuat semakin tidak mungkin apabila pembuatan konsep hanya diserahkan pada seseorang saja. Saatnya sekarang menghadirkan para rijalud dakwah sesuai spealisasi ilmu atau kafa’ahnya dalam sebuah forum dialog yang seimbang. Penglibatan rijalud dakwah yang ahli dalam masalah sosiologi misalnya, mendesak untuk dihadirkan agar gerak dakwah yang dilakukan lebih sosiologis (bil lisani qoumi) dibandingkan pendekatan politik melulu. &lt;strong&gt;Penglibatan beragam rijalud dakwah dari berbagai disiplin ilmu&lt;/strong&gt; amat dimungkinkan di dunia kampus. Tantangan dakwahnya ada di depan mata yaitu, bagaimana menjawab permasalahan-permasalahan yang timbul dari fenomena generasi baru yang “hedon-norak” berikut kebudayaannnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih berkaitan dengan fiqhud dakwah, masalah &lt;strong&gt;kiprah muslimah&lt;/strong&gt; nampaknya memerlukan pembahasan tersendiri. Dominasi kaum hawa di beberapa fakultas merupakan fenomena tersendiri di kampus. Lebih-lebih lagi kalau keberadaannya di kampus memperoleh-“kalau tidak bisa dibilang klaim”- legitimasi feminisme. Masalah feminisme jika diletakkan sebagai sebuah aliran pemikiran belaka mungkin hanya menjadi ghazwah di tataran pemikiran saja. Tapi kalau feminisme sudah menjadi idiologi sebuah pergerakan, ini tentu saja akan menjadi perbenturan yang mewarnai kampus di masa datang. Di tingkat nasional, bisa disaksikan maraknya buruh-buruh perempuan dan merambahnya kaum ibu ke sektor-sektor yang selama ini tak pernah terbayangkan. Beralihnya peran ibu dari sektor domestik ke sektor publik ini jelas akan berpengaruh besar di masa datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan yang patut digaris bawahi pada pembahasan di sekitar fiqhud dakwah adalah &lt;strong&gt;manajemen konflik&lt;/strong&gt; bagi para rijalud dakwah. Membicarakan konflik bukanlah meniatkan terjadinya konflik akan tetapi meniatkan penyelesaian konflik agar menghasilkan ishlah yang mendatangkan rahmat. Menabukan membicarakan tentang konflik justru mengingkari kenyataan yang ada. Memendam konflik berarti menyimpan bom waktu yang akan menjadi bumerang. Oleh karenanya konflik harus diselesaikan semenjak dini. Seiring dengan terajutnya tali ukhuwah, buatlah sebuah mekanisme yang mendamaikan perselisiha menjadi islah di atas landasan ketakwaan. Kalau seorang rijalud dakwah berhasil memanej konfliknya menjadi sebuah ishlah di atas ketakwaannya maka Allah akan merahmatinya (QS Al Hujurat ayat 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Introspeksi dan Evaluasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena kefuturan pada sementara rijalud dakwah yang menggejala akhir-akhir ini bisa dilihat dari beberapa sudut. &lt;strong&gt;Hal pertama&lt;/strong&gt; yang bisa dilihat adalah &lt;strong&gt;terhijabnya saluran komunikasi&lt;/strong&gt; yang menimbulkan mis-persepsi dan &lt;strong&gt;tidak terserapnya permasalahan-permasalahan&lt;/strong&gt; yang berkembang secara optimal. Komunikasi yang tidak efektif juga berdampak pada rendahnya pemahaman akan apa yang sebenarnya tengah diperdalam dan diperjuangkan. Akhirnya timbullah disorientasi pada sebagian rijalud dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hal kedua&lt;/strong&gt; sebagai akibat dari hal pertama adalah &lt;strong&gt;terhambatnya aktualisasi diri sebagian rijalud dakwah yang kurang sabar dan kurang pandai memahami tapi terkenal kritis, kreatif, aktif, dan progresif&lt;/strong&gt;. Mereka yang sangat ekspresif dan energik ini, sebenarnya aset yang mahal dalam barisan rijalud dakwah. Oleh karenanya dibutuhkan langkah-langkah yang antisipatif untuk mengarahkan mereka kearah-arah yang tepat dan telah dipersiapkan dengan matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hal ketiga&lt;/strong&gt; sebagai akibat dari hal kedua adalah terjadinya &lt;strong&gt;stagnasi internal&lt;/strong&gt;, di mana terdapat kecenderungan untuk &lt;strong&gt;defensif, tidak argumentatif, dan tidak antisipatif&lt;/strong&gt; terhadap perkembangan yang ada. Kecenderungan yang umum adalah bertahan pada apa yang sudah ada, beku pada apa yang dianggap baku, takut berkreatifitas, malu berinovasi, khawatir salah, dan pasif menerima apa adanya. Akhirnya &lt;strong&gt;muncullah kebosanan dan kebencian akan kemapanan yang bersifat emosional&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hal keempat&lt;/strong&gt; dan terakhir adalah &lt;strong&gt;rongrongan eksternal&lt;/strong&gt;. Bagaimanapun golongan kiri, kanan, haddamah, dan generasi baru yang menjadi pialang peradaban barat akan merongrong terus baik secara politis maupun pemikiran dengan pola kerja yang sistematis. Sementara-“di sinilah pentingnya fiqhul ikhtilaf dan pemahaman terhadap harokah yang baik”-kelompok politik atau aliran pemikiran tertentu dalam Islam lainnya menawarkan berbagai alternatif lain untuk dipilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Khatimah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memenej dakwah pada hakekatnya menjalankan fungsi kekhalifan di muka bumi ini. Jangan sampai ketika kita berdakwah di kampus, kaidah dakwah ‘ammah wa harokatudzh dzhohiroh (dakwah umum dan aktifitas terbuka) berubah perlahan-lahan menjadi kaidah dakwah khashshah wa harokatus sirriyah (dakwah khusus dan aktifitas tertutup). Jangan sampai ketika kita berdakwah, melakukan suatu kegiatan di kampus, pemberi materinya kita, panitianya kita, dan para pesertanyapun kita semua. Marilah kita belaku professional dalam berdakwah sehingga kita dapat menjalankan tugas sebagai khalifah di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menyaksikan apa yang terlintas pada setiap lubuk hati para Aktifis Dakwah Kampus. Maha suci Engkau Ya Allah, dengan memuji Engkau, aku bersaksi tiada Ilah kecuali Engkau. Aku mohon ampun kepada Mu dan aku bertaubat kepada Mu. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(musyarof.net)      &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-2334737948913296023?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/2334737948913296023/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=2334737948913296023' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/2334737948913296023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/2334737948913296023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/urgensi-dan-manajemen-dakwah-kampus.html' title='Urgensi dan Manajemen Dakwah Kampus'/><author><name>sigitkputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11637905021197640459</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i231.photobucket.com/albums/ee260/sigitkputra/sigit05.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-7015689353696094067</id><published>2008-07-09T12:24:00.000+07:00</published><updated>2008-07-09T12:25:31.350+07:00</updated><title type='text'>Prinsip Dasar dalam Menerima dan Menyebarkan Berita</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;hudzaifah.org -&lt;/b&gt; Zaman sekarang dapat disebut sebagai zaman era informasi. Kalau dahulu kita harus berusaha mencari informasi, kini kita harus berusaha menseleksi informasi. Informasi (selanjutnya kita sebut dengan berita) di zaman sekarang bagaikan air bah, membanjiri setiap media dan para penerima berita. Tidak sedikit yang kewalahan akibat kebanjiran berita. Apalagi karakter dasar berita yang berasal dari manusia adalah bahwa berita itu bisa benar dan bisa juga salah. Untuk itu sudah saatnya kita menyusun prinsip dasar dalam menerima dan menyebarkan berita. Dan berikut ini sekedar tulisan ringan seputar prinsip dasar tersebut, mudah-mudahan bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip di bawah ini terkait erat dengan dengan pola hidup berjamaah, berorganisasi, atau bermasyarakat teratur. Prinsip di bawah ini sulit diterapkan jika kita menerapkan pola hidup yang individualis. Oleh karena itu sebelum menerapkan prinsip di bawah ini, pastikan bahwa kita adalah bagian dari sebuah jamaah, organisasi, atau masyarakat yang teratur dan disiplin dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Prinsip Dasar dalam Menerima dan Menyebarkan Berita:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;u&gt;Lokalisasi&lt;/u&gt;. Lokalisasikan berita, seleksi mana yang layak dikonsumsi untuk umum, dan mana yang tidak layak dikonsumsi untuk umum. Hindari menyebarkan berita yang tidak layak dikonsumsi untuk umum (baik internal maupun eksternal kaum mukminin), seperti berita yang tidak jelas kebenarannya, tidak jelas sumbernya, gosip, dll. [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;u&gt;Tabayyun&lt;/u&gt;. Terkait dengan prinsip nomor 2, untuk berita yang tidak layak konsumsi untuk umum, segera ditabayyunkan kepada pemimpin. [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;u&gt;Sumber rujukan resmi/utama&lt;/u&gt;. Jadikan pemimpin sebagai sumber rujukan utama ketimbang sumber-sumber lain yang tidak jelas. [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;u&gt;Jangan suka mendengar berita bohong&lt;/u&gt;, itu bukan kebiasaan seorang muslim, itu adalah kebiasaan seorang Yahudi. [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;u&gt;Stop&lt;/u&gt;. Stop berita bohong jika sampai kepada diri kita, jangan disebarkan kepada orang lain. Ingat akan azab Allah. [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. &lt;u&gt;Husnuudzon&lt;/u&gt;. Berprasangka baik terhadap setiap mukmin dan mukminah yang terkait dengan berita bohong yang kita terima, sebagaimana kita berprasangka baik pada diri kita sendiri. [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. &lt;u&gt;Saksi&lt;/u&gt;. Harus ada saksi untuk membuktikan bahwa berita tersebut bohong atau tidak. Untuk tuduhan zina, harus ada 4 orang saksi [5]. Untuk hal lain di luar tuduhan zina harus ada 2 orang saksi [10].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. &lt;u&gt;Berita bohong bukan untuk obrolan&lt;/u&gt;. Jangan jadikan berita bohong sebagai bahan obrolan sehari-hari dengan orang lain. Jika bukan karena Karunia dan Rahmat Allah, azab akan menimpa kita karena obrolan tentang berita bohong tersebut. [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. &lt;u&gt;Diam&lt;/u&gt;. Diam, tahanlah lidah kita untuk mengatakan sesuatu yang tidak kita ketahui tentangnya. Di sisi kita hal itu merupakan hal yang ringan, tapi di sisi Allah itu adalah hal yang besar. [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. &lt;u&gt;Lawan propaganda berita bohong&lt;/u&gt;. Ketika menerima/mendengar sebuah berita bohong, katakanlah: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar." [8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. &lt;u&gt;Lihat siapa yang menyampaikan berita&lt;/u&gt;, apakah orang fasik atau bukan. Orang fasik adalah orang yang banyak berbuat maksiat, meninggalkan perintah Allah, keluar dari jalan benar dan agama. Fasik juga didefinisikan sebagai orang yang melakukan dosa besar atau sering melakukan dosa kecil. Dengan demikian, lihatlah track record si penyampai berita, apakah banyak berbuat maksiat, banyak meninggalkan perintah Allah, atau banyak melakukan dosa, atau tidak. Atau lihat ibadah si penyampai berita, apakah ibadahnya - khususnya ibadah wajib seperti shalat fardhu, zakat, puasa, dll - dia jalankan atau tidak, karena tidak menjalankan ibadah wajib berarti berdosa. [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. &lt;u&gt;Periksa dengan teliti&lt;/u&gt;. Jika yang menyampaikan adalah orang fasik, maka periksa dengan teliti berita tersebut. Lihat prinsip nomor 1, 2, 3, dan 7. [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Perbedaan dalam Penyampaian Berita dengan Penyampaian Nasehat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan "dengarkan apa yang dikatakannya, jangan lihat siapa yang mengatakannya". Kalimat tersebut adalah kalimat yang baik, diambil dari atsar Sahabat, Ali bin Abi Thalib RA, yang mengatakan "Undzur maa qoola, walaa tandzur man qoola" (lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan kau melihat siapa yang mengatakan). Namun kalimat tersebut disampaikan Ali bin Abi Thalib dalam kerangka penyampaian nasehat, bukan dalam rangka penyampaian berita. Dalam hal nasehat kita memang perlu dengar apa yang dinasehatkan kepada kita, bukan lihat orang yang menyampaikan nasehat tersebut. Sedangkan dalam penyampaian berita, kita perlu lihat siapa yang menyampaikan berita, lihat prinsip nomor 11 dan 12 di atas. Lagipula kita harus mendahulukan dalil Al Qur'an dan Sunnah, sebelum atsar sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai nasehat, walaupun yang menyampaikan nasehat adalah orang yang lemah iman sekali pun, nasehat tetap perlu didengar. Bahkan dalam sebuah kisah, ada seorang sahabat - yaitu Abu Hurairah - yang mendengarkan nasehat dari syetan. Syetan tersebut - yang menjelma menjadi seorang manusia pencuri - menasehati Abu Hurairah dengan kalimat: “Jika engkau hendak tidur, bacalah ayat kursi. Karena Allah akan menjagamu sampai kau bangun, dan syetan tak akan berani mendekatimu” (HR Bukhari). Dan tulisan ini adalah nasehat untuk penulis pribadi serta pembaca sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian prinsip ini, semoga dapat memudahkan kita dalam menseleksi berita yang kita terima maupun berita yang ingin kita sebarkan, insya Allah. [hdn.or.id]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Hendratno&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;___&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Catatan Kaki:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] QS. 4:83: Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] QS. 5:42: Mereka (orang-orang Yahudi) itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] QS. 24:11: Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] QS. 24:12: Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] QS. 24:13: Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Olah karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] QS. 24:14: Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] QS. 24:15: (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] QS. 24:16: Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] QS. 49:6: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] QS. 2:282: Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-7015689353696094067?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/7015689353696094067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=7015689353696094067' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/7015689353696094067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/7015689353696094067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/prinsip-dasar-dalam-menerima-dan.html' title='Prinsip Dasar dalam Menerima dan Menyebarkan Berita'/><author><name>sigitkputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11637905021197640459</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i231.photobucket.com/albums/ee260/sigitkputra/sigit05.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-6480360801325597445</id><published>2008-07-09T12:23:00.000+07:00</published><updated>2008-07-09T12:24:10.949+07:00</updated><title type='text'>Paradigma Dasar Dakwah Kampus</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Latar Belakang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hudzaifah.org - &lt;/b&gt;Salah satu sifat asholah dakwah adalah tetap konstan dalam masalah ushul dan bersifat fleksibel dalam menanggapi dan menghadapi perkembangan zaman. Dakwah dapat diibaratkan seperti air, ia akan menyesuaikan bentuk dengan wadah yang menampungnya tanpa harus mengubah zat aslinya. Mendakwahi masyarakat kampus sebagai masyarakat intelektual tentu berbeda ketika berdakwah terhadap masyarakat awam. Kendati esensi yang disampaikan adalah sama, namun ada perbedaan yang signifikan dalam hal cara dan pendekatan yang dilakukan. Semua ini mengingat adanya latar belakang, situasi-kondisi, watak dan karakter yang berbeda pada setiap strata masyarakat, bahkan lebih spesifik lagi pada setiap individu manusia. Kita bisa melihat dalam siroh, bagaimana Rasulullah memperlakukan masing-masing shahabat dan masyarakat yang dihadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kerangka dakwah yang manhajiyyah, dikenal dua model pendekatan, yaitu dakwah ‘ammah dan dakwah khashshah. Di mana kaidah dakwah pada asalnya adalah ‘ammah tetapi karena kondisi-kondisi tertentu dapat menjadikannya khashshah. Pada dakwah ‘ammah, seluruh kaidah-kaidah yang berlaku bersifat umum, universal, mulai dari tema pembicaraan, terget yang akan dicapai sampai sarana yang akan digunakan adalah bersifat umum. Sedangkan pada dakwah khashshah, ia bersifat spesifik dan tertutup, baik berupa cara, target maupun sarana yang digunakan. Untuk mempermudah pemahaman kita dalam masalah ini, kita bisa nisbatkan ke dalam marhaliyah dakwah kita, yaitu tabligh, ta’lim, dan takwin. Yang termasuk dakwah ‘ammah adalah tabligh dan ta’lim sedangkan takwin termasuk dalam dakwah khashshah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pendekatan dakwah tersebut dilakukan secara bersamaan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan yang ada. Oleh karena itu dirasa perlu untuk membuat suatu kerangka landasan untuk mengoperasikan semua program Dakwah Kampus dalam bentuk rencana strategi yang sesuai dengan prinsip-prinsip dakwah yang manhaji dengan memperhatikan kondisi waqi’I-nya. Dengan demikian diharapkan usaha dan upaya penataan dan konsolidasi Dakwah Kampus bisa dijalankan secara terprogram dan rapih sehingga hasilnyapun dapat optimal dan tentunya Allah SWT akan memberikan ganjaran atas ihsanul ‘amal para hambanya. Intinya, Dakwah Kampus yang kita lakukan diharapkan mempunyai Grand Design Dakwah, sehingga memiliki rencananya (Dakwah by Design). Semua Qiyadah dan setiap Jundinya tahu betul situasi dan kondisi yang sedang dihadapi, strategi dan program apa yang harus dilakukan, kriteria SDM yang dibutuhkan serta menuju tahapan Dakwah Kampus mana arahan dakwah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Paradigma-Paradigma Dasar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menentukan sebuah strategi penataan Dakwah Kampus, ada baiknya kita tentukan dulu Paradigma-Paradigma Dasar Dakwah Kampus kita sebagai kerangka acuan seluruh pembicaraan selanjutnya. Adapun Paradigma-Paradigma Dasar Dakwah Kampus kita adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sesuai dengan asholah dakwah (orisinalitas dakwah) maka Dakwah Kampus harus disampaikan kepada semua lapisan golongan masyarakat kampus, bahkan kepada semua individu manusia, karena dakwah yang tidak tersosialisasi dengan baik pada masyarakatnya niscaya tidak akan memiliki basis pergerakan yang kokoh (al-qoidatush sholbah), yang pada gilirannya akan mengalami disorientasi dakwah. Ada suatu kaidah dakwah yang harus selalu diingat oleh setiap da’I yaitu kita (para da’I) berasal dari mereka (masyarakat), akan bersama mereka, dan kembali pada mereka (nahnu minhum, wa ma’ahum, wa ‘alaihim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kaidah Dakwah di Kampus adalah dakwah ‘ammah wa harokatudzh dzhohiroh (dakwah umum dan aktifitas terbuka). Dakwah umum maksudnya mampu membahasakan muatan dan aktifitasnya agar mudah diterima oleh berbagai jenis pemikiran dengan bahasa umum dan universal serta lebih adaptif pada kondisi dan situasi riil. Gerak yang terbuka (jelas) maksudnya suatu gerak aktifitas yang mencerminkan kerapihan, keindahan, dan kesinambungan (profesionalitas) sehingga aktifis dan sasaran dakwah kampus mampu menangkap suatu suasana Islami yang nyata, berada pada dataran menyatu dengan denyut kehidupan kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kaidah yang lain adalah Dakwah Kampus bukan hanya untuk Dakwah Kampus. Ketika berdakwah di Kampus, para aktifis dakwah kampus (ADK) harus menyadari bahwa aktifitas dakwah mereka dibatasi oleh batas waktu kuliah (4-6 tahun), suasana yang homogen (mahasiswa yg dominan dari segi jumlah, umur yang sebaya serta tujuan untuk berkuliah) serta usia mereka yang terus bertambah. Dakwah yang sebenarnya ada diluar kampus, waktu yang lebih lama yaitu lebih dari 45 tahun (berdasar life expectancy manusia Indonesia 65 tahun), masyarakat yang heterogen serta kehidupan nyata/riil yang lebih kompleks dibandingkan kampus. Sehingga para ADK harus menyiapkan bekal yang cukup untuk kehidupan paska kampus agar mereka survive, tetap terus berdakwah paska kampus. Mereka harus mempunyai kompetensi (IPK, professional, keahlian khusus dan umum) dan kredibilitas (moralitas, sosial dan perilaku) yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Untuk menunjang operasi dan manuver Dakwah Kampus maka kita harus mengoptimalkan seluruh potensi yang ada, baik internal maupun eksternal. Sehingga semua sarana dan prasarana dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah, selama hal tersebut telah dipertimbangkan secara fiqhus syar’I dan fiqhul waqi’ (realitas) serta diputuskan lewat mekanisme syuro yang shahih. Ibarat suatu atom, dakwah harus bisa membuat lingkungan di sekitarnya berputar-putar mengelilinginya meskipun dalam orbit yang berbeda-beda. Kaidah ini pun merupakan penjabaran lebih lanjut dari kaidah Dakwah ‘Ammah karena mengikutsertakan para mahasiswa selain para ADK. Dakwah Kampus makin membumi dan mengakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Program Dakwah Kampus yang akan digulirkan haruslah diset-up secara marhaliyah (bertahap) dengan mempertimbangkan fiqhul awlawiyat (azas prioritas) dan fiqhul muwazanat (azas kesetimbangan), dan harus senantiasa dimutaba’ahi hasilnya (in control). Hal ini dimaksudkan agar obyek dakwah mendapatkan treatmen yang sesuai dengan pemahamannya dan di sisi lain hal-hal yang berbobot amniyyah tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dalam pelaksanaan Dakwah Kampus harus memperhatikan prinsip amal jama’i. Adalah merupakan sunnatullah yang tetap bahwa segala sesuatunya mempunyai keterbatasan masing-masing. Islam mewajibkan berjama’ah dalam rangka saling mengisi sehingga tercipta keharmonisan dan kesempurnaan. Para pemimpin dan prajurit dakwah harus menata dirinya menjadi suatu shaff yang rapih bagaikan bangunan yang kokoh. Dalam beramal jama’I diperlukan software berupa minhaj (metode), wasilah (sarana), dan uslub (cara). Dengan kata lain diperlukan strategi dan program yang akan diaktualisasikan. Selain itu juga diperlukan hardware berupa sistem yang rapih dan koordinasi yang solid serta terarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Dakwah Islam adalah dakwah syamilah yaitu sesuai dengan sifat Islam itu sendiri. Ini berarti bahwa Dakwah Kampus harus bisa masuk ke semua sektor dan menjawab semua tantangan yang dihadapinya. Peng’kotak-kotak’an dakwah hanya pada bidang-bidang tertentu saja adalah merupakan kesalahan besar. Dakwah meliputi semua aspek dalam kehidupan manusia. Berkaitan dengan dakwah kampus, dakwah harus bisa menjawab semua permasalahan dan tantangan yang ada di kampus. Ia meliputi, keilmiahan (IPTEK), keorganisasian, kepemimpinan, manajerial, administrasi, sosial, politik, dan lain sebagainya. Dakwah Kampus harus mampu melahirkan SDM-SDM yang tangguh untuk melakukan Islamisasi Ilmu Pengetahuan, mempengaruhi, menerjemahkan, atau merumuskan konsep dan nilai-nilai Islam ke dalam kebijakan-kebijakan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(musyarof.net)      &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-6480360801325597445?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/6480360801325597445/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=6480360801325597445' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/6480360801325597445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/6480360801325597445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/paradigma-dasar-dakwah-kampus.html' title='Paradigma Dasar Dakwah Kampus'/><author><name>sigitkputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11637905021197640459</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i231.photobucket.com/albums/ee260/sigitkputra/sigit05.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-859957207668553838</id><published>2008-07-08T17:24:00.001+07:00</published><updated>2008-07-08T17:26:53.922+07:00</updated><title type='text'>Manisnya Iman</title><content type='html'>&lt;span class="postedby"&gt;Oleh: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/author/admin" title="Profile of Tim dakwatuna.com"&gt;Tim dakwatuna.com&lt;/a&gt; &lt;/span&gt; &lt;hr size="1" align="left" color="#999999" noshade="noshade"&gt;  &lt;div align="right"&gt; &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2008/manisnya-iman/print/" title="" rel="nofollow"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/07/al-quran.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 5px; float: right;" title="al-quran" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/07/al-quran.jpg" alt="" width="250" height="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Seseorang akan merasakan manisnya iman bermula manakala di dalam hatinya terdapat rasa cinta yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya, manisnya akan semakin dirasakan bila seseorang berusaha untuk senantiasa menyempurnakan cintanya kepada Allah, memperbanyak cabang-cabangnya (amalan yang dicintai Allah swt.) dan menangkis hal-hal yang bertentangan dengan kecintaan Allah swt.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apa buktinya bila seseorang telah merasakan manisnya Iman?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Buktinya, ia akan selalu mengutamakan kecintaanya kepada Allah daripada mementingkan kesenangan dan kemegahan dunia, seperti bersenang-senang dengan keluarga, lebih senang tinggal di rumah ketimbang merespon seruan dakwah dan asyik dengan bisnisnya tanpa ada kontribusi sedikitpun terhadap kegiatan jihad di jalan Allah swt. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah : 24&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Katakanlah: “Jika bapa-bapak, anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Memprioritaskan kecintaan kepada Allah akan melahirkan perasaan ridha&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila seseorang senantiasa mengutamakan kecintaan kepada Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya, daripada kepentingan dirinya sendiri, maka akan lahirlah sikap ridha terhadap Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai din-nya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya. Keridhaannya itu dibuktikan dengan selalu menghadiri halaqahnya, terlibat dengan kegiatan dakwah di lingkungannya dan menginfakkan sebagian harta dan waktunya untuk kemaslahatan tegaknya agama Allah swt.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apa yang dirasakan oleh seseorang bila ia telah ridha terhadap Allah, agama dan Rasulnya?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, Ia akan merasakan &lt;em&gt;“Istildzadz at-Thaa’ah”,&lt;/em&gt; lezatnya ketaatan kepada Allah swt., baik dalam shalatnya, tilawah Qur’annya, pakaian dan pergaulan islaminya, perkumpulannya dengan orang-orang shaleh dan keterlibatannya dalam barisan dakwah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, Ia juga akan merasakan &lt;em&gt;“Istildzadz al-masyaqat”,&lt;/em&gt; lezatnya menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan dalam berdakwah. Kelelahan, keletihan, dan hal-hal yang menyakiti perasaannya akibat celaan orang karena menjalankan syariat Islam, atau bahkan mencederai fisiknya, semua itu semakin membuatnya nikmat dalam berdakwah. Semua inilah yang akan senantiasa melahirkan manisnya Iman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Istildzaadz at-thaa’ah”&lt;/em&gt;, lezatnya ketaatan kepada Allah ditunjukan oleh wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun wahyu yang memerintahkan mereka untuk berhijab dan menutrup auratnya, mereka langsung meresponnya dengan senang hati dan lapang dada, tanpa merasa berat sedikitpun. Aisyah ra. yang menjadi saksi mata atas hal ini berkata :&lt;/p&gt; &lt;p class="arabic"&gt;رَحِمَ الله ُنِسَاءَ اْلاَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَاتِ لَمَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِنَّ “وَلْيَضْرِبْنَ مِنْ جَلاَ بِيْبِهِنَّ عَلَى جُيُوْ بِهِنَّ” شَقَقْنَ مُرُوْطَهُنَّ فَلْيَخْتَمِرْنَ بِهَا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Semoga Allah merahmati wanita Anshar dan Muhajirin, tatkala turun kepada mereka ayat “hendaknya mereka mengenakan kain panjang (jilbab) sampai ke atas dada mereka,” mereka memotong kain-kain mereka, lalu mereka menjadikan kain-kain itu sebagai penutup kepalanya&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;Abu Ayub Ayub Al-Anshary, ketika mendengar seruan jihad, Dalam surat At-Taubah : 41&lt;/p&gt; &lt;p class="arabic"&gt;انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.” &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Abu Ayub berseru kepada anak-anaknya, &lt;em&gt;“Jahhizuuny! Jahhizuuny!”&lt;/em&gt; siapkan peralatan perangku!. Anak-anaknya membujuk agar bapaknya tidak perlu berangkat untuk berjihad, karena usianya sudah udzur, cukup di wakilkan saja oleh anak-anaknya. Abu Ayyub menolak bujukan anak-anaknya seraya berkata : “ketahuilah wahai anak-anakku, yang dimaksud ayat tersebut adalah &lt;span class="arabic"&gt;خِفَافًالَكُمْ وَثِقَالاً لٍي , &lt;/span&gt;ringan bagi kalian berat bagiku, beliaupun tetap berangkat dan menemukan syahidnya dalam perjalanan jihad tersebut. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sedangkan Lezatnya kesulitan (Istildzadz al-masyaqqah) dalam dakwah dirasakan oleh Rasulullah saw., ketika beliau menghadapi ketidaksukaan orang-orang kafir terhadap ajaran Islam, sebagaimana yang ditunjukan oleh masyarakat Thaif ketika Rasulullah saw. hijrah ke sana, yaitu pada saat Nabi menyampaikan dakwahnya, mengajak mereka untuk menerima ajaran Islam, tetapi tidak ada sedikitpun sambutan baik dari para tokoh mereka, bahkan dengan nada yang sangat melecehkan dan menyakitkan, mereka menanggapi dakwah Nabi seraya berkata,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Coba kau robek kiswah ka’bah jika engkau memang benar-benar utusan Allah.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang lainnya pun turut berkomentar,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Apa tidak ada lagi orang yang lebih pantas diutus oleh Allah selain engkau?”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan penuh kesabaran dan ketabahan Rasulullah saw. menerima kenyataan pahit tersebut, beliau tetap berlapang dada dan tidak mempermasalahkan tentang penolakan dan penentangan mereka. Oleh karena itu ketika malaikat penjaga gunung &lt;em&gt;Alaihissalaam&lt;/em&gt; menawarkan kepada Nabi, bila beliau setuju ia akan mengangkat dua buah bukit yang ada di Thaif lalu ditimpakan kepada mereka, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang Rasulullah saw. menanggapinya seraya berkata,&lt;/p&gt; &lt;p class="arabic"&gt;بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Tetapi aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang rusuk mereka kelak orang-orang (generasi) yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh Abu Muhammad bin Abi Jamroh mengibaratkan manisnya iman dengan sebuah pohon, sebagaimana firman Allah :&lt;/p&gt; &lt;p class="arabic"&gt;أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.”&lt;/em&gt; (Ibrahim : 24)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang dimaksud kalimat dalam ayat tersebut adalah kalimatul ikhlas&lt;span class="arabic"&gt; لا اله الا الله, &lt;/span&gt;batang pohonnya adalah pangkal iman, cabang dan rantingnya adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dedaunannya adalah kepedulian terhadap kebajikan, buahnya adalah amal ketaatan, rasa manisnya adalah ketika memetiknya, dan puncak manisnya adalah ketika matangnya sempurna saat dipetik, disitulah sangat terasa manisnya&lt;em&gt;. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="arabic"&gt;عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ: مَنْ كَانَ اللَّهُ&lt;em&gt; &lt;/em&gt;وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ)). (رواه البخاري ومسلم وهذا لفظ مسلم).&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 27pt;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari Anas ra, dari Nabi saw. bersabda, &lt;em&gt;“Tiga perkara jika kalian memilikinya, maka akan didapati manisnya iman. (Pertama) orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. (Kedua) agar mencintai seseorang semata-mata karena Allah swt. (Ketiga), tidak senang kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah swt, sebagaimana ketidak-senangannya dilempar ke dalam api neraka.”&lt;/em&gt; (HR Bukhar Muslim dengan redaksi Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p class="arabic"&gt;عَنْ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ((ذَاقَ طَعْمَ الإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً)) (رواه مسلم).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari Al-Abbas bin Abdil Muttalib, bahwasanya ia mendengar Rasulallah saw. bersabda, &lt;em&gt;“Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya dan Muhammad sebagai Rasulnya.”&lt;/em&gt; (HR. Muslim)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hadits ini sangat agung maknanya, termasuk dasar-dasar Islam, berkata para ulama, “Arti dari manisnya iman adalah mersakan lezatnya ketaatan dan memiliki daya tahan menghadapi rintangan dalam menggapai ridha Allah dan Rasul-Nya, lebih mengutamakan ridha-Nya dari pada kesenangan dunia, dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam hadits tersebut Rasulullah saw. menjelaskan bahwa tiga perkara bila kalian berada di dalamnya maka akan didapati manisnya iman, karena sarat mendapatkan manisnya sesuatu adalah dengan mencintainya, maka barang siapa yang mencintai sesuatu dan bergelora cintanya, maka ketika berhasil mendapatkannya, ia akan merasakan manis, lezat dan kegembiraannya. Karena itu seorang mukmin yang telah mendapatkan manisnya iman yang mangandung unsur kelezatan dan kesenangan akan diiringi dengan kesempurnaan cinta seorang hamba kepada Allah swt. Dan kesempurnan itu dapat diwujudkan dengan tiga hal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertama : menyempurnakan cinta kepada Allah yaitu dengan menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari yang lainnya, karena cinta kepada Allah tidak cukup hanya sekedarnya, tetapi harus melebihi dari yang lain-Nya&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedua : menjadikan cinta kepada Allah menjadi pangkal dari cabang cinta kepada yang lain, yaitu mencintai orang lain semata-mata karena dan untuk Allah swt., sehingga dalam mencintai ia tetap mengikuti prosedur dan mekanisme cinta yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan Sunnah, misalnya tidak berkhalwat, menyegerakan akad nikah dan menghindari perbuatan yang mendekati pada perzinahan. (tidak pacaran) (QS. 24 : 30-31, 33 : 59)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menolak segala hal yang bertentangan dengan cinta-Nya, yaitu tidak menyukai hal-hal yang bertentangan dengan keimanan melebihi ketidaksukaannya bila dirinya dilemparkan ke dalam api neraka.&lt;/p&gt; &lt;p class="arabic"&gt;عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ قاَلَ : ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلِايْمَانِ :اَلاْنِفْاَقُ مِنَ اُلاِقْتَارِ ، وَإِنْصَافُ النَّاسِ مِنْ نَفْسِكَ ، وَبذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ (رواه عبد الرزاق) علقه البخاري في (كتاب الايمان)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Amar bin Yasir berkata, “Ada tiga hal yang barangsiapa berada di dalamnya ia merasakan manisnya keimanan, berinfak dari kekikiran, bersikap adil terhadap manusia dari dirinya, dan mengupayakan keselamatan (salam) bagi alam.” (Diriwayatkan Abdurazzaq, Bukhari mencantumkannya di kitab Al-Iman).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hadits yang dibawakan oleh Amar bin Yasir ra. tersebut di atas, juga menjelaskan tentang tiga hal yang dapat mendatangkan manisnya iman&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertama : berinfak secukupnya, tidak berlebihan sehingga menzalimi hak-hak yang lainnya, tapi juga tidak kikir dengan hartanya&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedua : bersikap objektif, tidak menghalanginya untuk berbuat baik dan adil kepada manusia, walaupun ada kaitannya dengan kepentingan diri sendiri, misalnya walaupun disakiti dan dizalimi oleh seseorang, tetapi tidaka menghalanginya untuk memaafkannya dan tetap berbuat baik kepadanya&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketiga : Menebarkan kesejahteraan kepada seluruh alam semesta, memperjuangkan sesuatu demi kebaikan manusia dan seluruh makhluk lainnya, seperti dengan melakukan kegiatan amal siasi maupun amal khidam ijtima’i (kegiatan sosial)&lt;/p&gt; &lt;p class="arabic"&gt;عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ : ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ يَجِدْ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلاِيْمَانِ : تَرْكُ اْلمِرَاءِ فيِ الْحَقِّ ، وَاْلكِذْبُ فِي اْلمُزَاحَةِ ، وَيَعْلَمُ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَهُ. (رواه عبد الرزاق)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Mas’ud juga berkata, “Ada tiga hal yang barangsiapa berada di dalamnya akan merasakan manisnya iman, menghindari perdebatan dalam hal kebenaran, tidak berdusta dalam bercanda, dan menyadari bahwa apa yang akan menimpanya bukan karena kesalahannya dan apa kesalahannya tidak menyebabkan ia tertimpa (musibah).” (Diriwayatkan Abdurrazzaq).&lt;/p&gt; &lt;p class="arabic"&gt;عن أنس مرفوعا: “لاَ يَجِدُ عَبْدٌ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ حَتىَّ يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَهُ … ” الحديث . أخرجه ابن أبي عاصم ( 247 ) بإسناد حسن عنه. (الألباني - السلسلة الصحيحة)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari Anas secara marfu’ mengatakan, “Tidaklah seorang hamba merasakan manisnya keimanan sehingga dia menyadari bahwa apa yang akan menimpanya bukan karena kesalahannya dan apa kesalahannya tidak menyebabkan ia tertimpa (musibah).” Hadits tersebut dikeluarkan Ibnu Abi Ashim, hadits sahih dengan sanad yang baik, termaktub dalam silisilah hadits sahih karya Imam Albani.&lt;/p&gt; &lt;p class="arabic"&gt;(قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ) * وَالْغَضُّ عَنِ الْمَحَارِمِ يُوْجِبُ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ، وَمَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلّهِ عَوَّضَهُ اللهُ خَيْرًا مِنْهُ، وَمَنْ أَطْلَقَ لَحَظَاتِهِ دَامَتْ حَسَرَاتُهُ. (فيض القدير 1/677).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Katakanlah kepada mukmin laki-laki agar menahan pandangan mereka…” (An-Nur: 30). Yaitu menahan dari apa yang diharamkan Allah swt. pasti akan mendatangkan manisnya iman, dan barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik darinya, dan barangsiapa yang membebaskannya walau hanya sekejap maka akan abadi penyesalannya”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 18pt;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="arabic"&gt;عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ حَقِّهِ عَلَيْهَا، وَلاَ تَجِدُ امْرَأَةٌ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا عَلَى قَتَبٍ.” (المعجم الكبير للطبراني)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari Muadz bin Jabal berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Seandainya aku memerintahkan seseorang bersujud kepada yang lainnya, maka akan aku perintahkan isteri sujud kepada suaminya, karena hak-hak suami atasnya, dan tidaklah seorang wanita mendapatkan manisnya iman sehingga Ia menunaikan hak suaminya, walaupun suaminya memintanya, sedang Ia sedang berada di atas sekedupnya&lt;/p&gt; &lt;p class="arabic"&gt;قاَلَ اِبْنُ رَجَبْ فِي (فَتْحِ الْبَارِي: 1/27): فَإِذَا وَجَدَ اْلقَلْبُ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ أَحَسَّ بِمَرَارَةِ اْلكُفْرِ وَاْلفُسُوْقِ وَاْلعِصْيَانِ وَلِهَذَا قَالَ يُوْسُفُ عَلَيْهِ السَّلاَم ُ: {رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ} [يوسف33&lt;strong&gt;].&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Rajab berkata dalam kitab Fathul Bari 1/27 : “Maka apabila sebilah hati telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan sensitif merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan, karena itulah Nabi Yusuf AS berkata : “Ya Rabb! Penjari lebih aku sukai daripada apa yang mereka serukan kepadaku” (QS. Yusuf : 33)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-859957207668553838?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/859957207668553838/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=859957207668553838' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/859957207668553838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/859957207668553838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/manisnya-iman.html' title='Manisnya Iman'/><author><name>srirahayu83</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14781626802008140467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_SCXifCbU5fI/SFD9VtaP3OI/AAAAAAAAAAM/kZCh4tM-doo/S220/DSC00488.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-7353432124957012360</id><published>2008-07-08T16:47:00.000+07:00</published><updated>2008-07-08T16:58:50.631+07:00</updated><title type='text'>Dua Dimensi Shalat</title><content type='html'>&lt;span class="postedby"&gt;Oleh: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/author/ustadz" title="Profile of DR. Amir Faishol Fath"&gt;DR. Amir Faishol Fath&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;hr style="margin-left: 0px; margin-right: 0px;" size="1" color="#999999" noshade="noshade"&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;Shalat adalah ibadah yang terpenting dan utama dalam Islam. Dalam deretan rukun Islam Rasulullah saw. menyebutnya sebagai yang kedua setelah mengucapkan dua kalimah syahadat (&lt;em&gt;syahadatain&lt;/em&gt;). Rasullah bersabda, “Islam dibangun atas lima pilar: bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, berhajji ke ka’bah &lt;em&gt;baitullah&lt;/em&gt; dan puasa di bulan Ramadlan.” (HR. Bukhari, No.8 dan HR. Muslim No.16).&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ketika ditanya Malaikat Jibril mengenai Islam, Rasullah saw. lagi-lagi menyebut shalat pada deretan yang kedua setelah &lt;em&gt;syahadatain&lt;/em&gt; (HR. Muslim, No.8). Orang yang mengingkari salah satu dari rukun Islam, otomatis menjadi &lt;em&gt;murtad&lt;/em&gt; (keluar dari Islam). Abu Bakar Ash Shidiq ra. ketika menjabat sebagai khalifah setelah Rasullah saw. wafat, pernah dihebohkan oleh sekelompok orang yang menolak zakat. Bagi Abu Bakar mereka telah &lt;em&gt;murtad&lt;/em&gt;, maka wajib diperangi. Para sahabat bergerak memerangi mereka. Peristiwa itu terkenal dengan &lt;em&gt;harbul&lt;/em&gt; &lt;em&gt;murtaddin&lt;/em&gt;. Ini baru manolak zakat, apalagi menolak shalat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ketika menyebutkan ciri-ciri orang yang bertakwa pada awal surah Al-Baqarah, Allah menerangkan bahwa menegakkan ibadah shalat adalah ciri kedua setelah beriman kepada yang ghaib (Al-Baqarah: 3). Dari proses bagaimana ibadah shalat ini disyariatkan –lewat kejadian yang sangat agung dan kita kenal dengan peristiwa &lt;em&gt;Isra’ Mi’raj–&lt;/em&gt; Rasulullah saw. tidak menerima melalui perantara Malaikat Jibril, melainkan Allah swt. langsung mengajarkannya. Dari sini tampak dengan jelas keagungan ibadah shalat. Bahwa shalat bukan masalah &lt;em&gt;ijtihadi&lt;/em&gt; (baca: hasil kerangan otak manusia yang bisa ditambah dan diklurangi) melainkan masalah &lt;em&gt;ta’abbudi&lt;/em&gt; (baca: harus diterima apa adanya dengan penuh keta’atan). Sekecil apapun yang akan kita lakukan dalam shalat harus sesuai dengan apa yang diajarkan Allah langsung kepada Rasul-Nya, dan yang diajarkan Rasulullah saw. kepada kita.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bila dalam ibadah haji Rasulullah saw. bersabda, “&lt;em&gt;Ambillah dariku cara melaksanakan manasik hajimu&lt;/em&gt;”, maka dalam shalat Rasullah bersabda, “&lt;em&gt;shalatlah sebagaiman kamu melihat aku shalat&lt;/em&gt;”. Untuk menjelaskan bagaimana cara Rasullah saw. melaksanakan shalat, paling tidak ada dua dimensi yang bisa diuraikan dalam pembahasan ini: dimensi ritual dan dimensi spiritual.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Dimensi Ritual Shalat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dimensi ritual shalat adalah tata cara pelaksanaannya, termasuk di dalamnya berapa rakaat dan kapan waktu masing-masing shalat (&lt;em&gt;shubuh, zhuhur, ashar, maghrib, isya’&lt;/em&gt;) yang harus ditegakkan. Dalam hal ini tidak ada seorang pun dari sahabat Rasulullah saw., apa lagi ulama, yang mencoba-coba berusaha merevisi atau menginovasi. Umpamnya yang empat rakaat dikurangi menjadi tiga, yang tiga ditambah menjadi lima, yang dua ditambah menjadi empat dan lain sebagainya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam segi waktu pun tidak ada seorang ulama yang berani menggeser. Katakanlah waktu shalat Zhuhur digeser ke waktu dhuha, waktu shalat Maghrib digeser ke Ashar dan sebagainya (perhatikan: An-Nisa’: 103). Artinya shalat seorang tidak dianggap sah bila dilakukan sebelum waktunya atau kurang dari jumlah rakakat yang telah ditentukan. Dalam konteks ini tentu tidak bisa beralasan dengan shalat &lt;em&gt;qashar&lt;/em&gt; (memendekkan jumlah rakaat) atau &lt;em&gt;jama’ taqdim&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;ta’khir&lt;/em&gt; (menggabung dua shalat seperti dzhuhur dengan ashar: diawalkan atau diakhirkan) karena masing-masing dari cara ini ada &lt;em&gt;nash&lt;/em&gt;nya (baca: tuntunan dari Alquran dan sunnah Rasullah saw.; An-Nisa’: 101), dan itupun tidak setiap saat, melainkan hanya pada waktu-waktu tertentu sesuai dengan kondisi yang tercantum dalam &lt;em&gt;nash&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apa yang dibaca dalam shalat juga tercakup dalam tata cara ini dan harus mengikuti tuntunan Rasulullah. Jadi tidak bisa membaca apa saja seenaknya. Bila Rasullah memerintahkan agar kita harus shalat seperti beliau shalat, maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk menambah-nambah. Termasuk dalam hal menambah adalah membaca terjemahan secara terang-terangan dalam setiap bacaan yang dibaca dalam shalat. Karena sepanjang pengetahuan penulis tidak ada &lt;em&gt;nash&lt;/em&gt; yang memerintahkan untuk juga membaca terjemahan bacaan dalam shalat, melainkan hanya perintah bahwa kita harus mengikuti Rasullah secara &lt;em&gt;ta’abbudi&lt;/em&gt; dalam melakukan shalat ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mungkin seorang mengatakan, benar kita harus mengikuti Rasullah, tapi bagaimana kalau kita tidak mengerti apa makna bacaan yang kita baca dalam shalat? Bukankah itu justru akan mengurangi nilai ibadah shalat itu sendiri? Dan kita hadir dalam shalat menjadi seperti burung beo, mengucapkan sesuatu tetapi tidak paham apa yang kita ucapkan?&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Untuk mengerti bacaan dalam shalat, caranya tidak mesti dengan membaca terjemahannya ketika shalat, melainkan Anda bisa melakukannya di luar shalat. Sebab, tindakan membaca terjemahan dalam shalat seperti tindakan seorang pelajar yang menyontek jawaban dalam ruang ujian. Bila menyontek, jawaban merusak ujian pelajar. Membaca terjemahan dalam shalat juga merusak shalat. Bila si pelajar beralasan bahwa ia tidak bisa menjawab kalau tidak nyontek, kita menjawab Anda salah mengapa tidak belajar sebelum masuk ke ruang ujian. Demikian juga bila seorang beralasan bahwa ia tidak mengerti kalau tidak membaca terjemahan dalam shalat, kita jawab, Anda salah mengapa Anda tidak belajar memahami bacaan tersebut di luar shalat. Mengapa Anda harus dengan mengorbankan shalat, demi memahami bacaan yang Anda baca dalam shalat? Wong itu bisa Anda lakukan di luar shalat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pentingnya mengikuti cara Rasullah bershalat, ternyata bukan hanya bisa dipahami dari hadits tersebut di atas, melainkan dalam teks-teks Alquran sangat nampak dengan jelas. Dari segi bahasa dan gaya ungkap Alquran selalu menggunakan “&lt;em&gt;aqiimush shalaata&lt;/em&gt;” (tegakkankanlah shalat) atau “&lt;em&gt;yuqiimunash sahalat&lt;/em&gt;” (menegakkan shalat). Menariknya, ungkapan seperti ini juga digunakan Rasullah saw. Pada hadits mengenai pertemuannya dengan Malaikat Jibril, Rasullah bersabda: “&lt;em&gt;watuqiimush shalata&lt;/em&gt;“ (HR. Muslim No.8) dan pada hadits mengenai pilar-pilar Islam bersabda: “&lt;em&gt;waiqaamish shalati&lt;/em&gt; “. (HR. Bukahri No.8 dan HR. Muslim No.16)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apa makna dari &lt;em&gt;aqiimu&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;yuqiimu&lt;/em&gt; di sini? Mengapa kok tidak langsung mengatakan &lt;em&gt;shallu&lt;/em&gt; (bershalatlah) atau &lt;em&gt;yushalluuna&lt;/em&gt; (mereka bershalat)? Para ahli tafsir bersepakat bahwa dalam kata &lt;em&gt;aqiimu&lt;/em&gt; atau&lt;em&gt; yuqiimuuna&lt;/em&gt; mengandung makna penegasan bahwa shalat itu harus ditegakkan secara sempurna: baik secara ritual dengan memenuhi syarat dan rukunnya, tanpa sedikitpun mengurangi atau menambah, maupun secara spiritual dengan melakukannya secara khusyuk seperti Rasulullah saw. melakukannya dengan penuh kekhusyukan. Masalah khusyu’ adalah pembahasan dimensi spiritual shalat yang akan kita bicarakan setelah ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Dimensi Spiritual Shalat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mengikuti cara Rasulullah saw. shalat tidak cukup hanya dengan menyempurkan dimensi ritulanya saja, melainkan harus juga diikuti dengan menyempurnakan dimensi spritualnya. Ibarat jasad dengan ruh, memang seorang bisa hidup bila hanya memenuhi kebutuhan jasadnya, namun sungguh tidak sempurna bila ruhnya dibiarkan meronta-meronta tanpa dipenuhi kebutuhannya. Demikian juga shalat, memang secara fikih shalat Anda sah bila memenuhi syarat dan ruku’nya secara ritual, tapi apa makna shalat Anda bila tidak diikuti dengan kekhusyukan. Perihal kekhusyukan ini Alquran telah menjelaskan, “&lt;em&gt;Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, dan sesungguhnya shalat itu sangat berat kecuali bagi mereka yang khusyu&lt;/em&gt;.” (Al-Baqarah: 45)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Imam Ibn Katsir, ketika menafsirkan ayat ini, menyebutkan pendapat para ulama salaf mengenai makna khusyu’ dalam shalat: Mujahid mengatakan, itu suatu gambaran keimanan yang hakiki. Abul Aliyah menyebut, &lt;em&gt;alkhasyi’in&lt;/em&gt; adalah orang yang dipenuhi rasa takut kepada Allah. Muqatil bin Hayyanperpendapat, &lt;em&gt;alkhasyi’in&lt;/em&gt; itu orang yang penuh tawadhu’. Dhahhaq mengatakan, &lt;em&gt;alkhasyi’en merupakan&lt;/em&gt; orang yang benar-benar tunduk penuh ketaatan dan ketakutan kepada Allah. (Ibn Katsir, &lt;em&gt;Tafsirul Qur’anil azhim&lt;/em&gt;, Bairut, Darul fikr, 1986, vol. 1, h.133)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dan pada dasarnya shalat –seperti yang digambarkan Ustadz Sayyid Quthub– adalah hubungan antara hamba dan Tuhannya yang dapat menguatkan hati, membekali keyakinan untuk menghadapi segala kenyataan yang harus dilalui. Rasulullah saw. –kata Sayyid- setiap kali menghadapi persoalan, selalu segara melaksanakan shalat. (Sayyid Quthub, &lt;em&gt;fii zhilalil Qur’an, &lt;/em&gt;Bairut, Darusy syuruuq, 1985, vol. 1, h. 69)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam hal ini tentu shalat yang dimaksud bukan sekedar shalat, melainkan shalat yang benar-benar ditegakkan secara sempurna: memenuhi syarat dan rukunnya, lebih dari itu penuh dengan kekhusyukan. Karena hanya shalat yang seperti inilah yang akan benar-benar memberikan ketenangan yang hakiki pada ruhani, dan benar- benar melahirkan sikap moral yang tinggi, seperti yang dinyatakan dalam Alquran: “&lt;em&gt;dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar &lt;/em&gt;”. (Al-Ankabut: 45)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jelas, bahwa hanya shalat yang khusyu’ yang akan membimbing pelaksananya pada ketenangan dan kemuliaan perilaku. Oleh sebab itu para ulama terdahulu selalu mengajarkan bagimana kita menegakkan shalat dengan penuh kekhusyukan. Imam As-Samarqandi dalam bukunya &lt;em&gt;tanbihul ghafiliin&lt;/em&gt;, menulis bab khusus dengan judul: &lt;em&gt;Bab itmamush shalaati wal khusyu’u fiihaa&lt;/em&gt; (Bab menyempurkan dan khusyuk dalam shalat). Disebutkan dalam buku ini bahwa orang yang sembahyang banyak, tetapi orang yang menegakkan shalat secara sempurna sedikit. (As Samarqandi, &lt;em&gt;Tanbihul ghafiliin&lt;/em&gt;, Bairut, Darul Kitab al’Araby, 2002, h. 293)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Imam As-Samarqandi benar. Kini kita menyaksikan orang-orang shalat di mana-mana. Tetapi, berapa dari mereka yang benar-benar menikmati buah shalatnya, menjaga diri dari perbuatan keji, perzinaan, korupsi dan lain sebagainya yang termasuk dalam kategori munkar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Antara Ritual dan Spritual&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ketika Rasulullah saw. memerintahkan agar kita mengikuti shalat seperti yang beliau lakukan, itu maksudnya mengikuti secara sempurna: ritual dan spiritual. Ritual artinya menegakkan secara benar syarat dan rukunnya, spiritual artinya melaksanakannya dengan penuh keikhlsan, ketundukan dan kekhusyukan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kedua dimiensi itu adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Satu dimensi hilang, maka shalat Anda tidak sempurna. Bila Anda hanya mengutamakan yang spiritual saja, dengan mengabaikan yang ritual (seperti tidak mengkuti cara-cara shalat Rasulluah secara benar, menambahkan atau mengurangi, atau meniggalkannya sema sekali) itu tidak sah. Dengan bahasa lain, shalat yang ditambah dengan menerjemahkan setiap bacaannya ke dalam bahasa Indonesia, itu bukan shalat yang dicontohkan Rasullah. Maka, itu tidak disebut shalat, apapun alasan dan tujuannya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebaliknya, bila yang Anda utamakan hanya yang ritual saja dengan mengabaikan yang spiritual, boleh jadi shalat Anda sah secara fikih. Tetapi, tidak akan membawa dampak apa-apa pada diri Anda. Karena yang Anda ambil hanya gerakan shalatnya saja. Sementara ruhani shalat itu Anda campakkan begitu saja. Bahkan bila yang anda abaikan dari dimensi spiritual shalat itu adalah keikhlasan, akibatnya fatal. Shalat Anda menjadi tidak bernilai apa-apa di sisi-Nya. &lt;em&gt;Na’udzubillahi mindzaalika. Wallahu A’lam bish shawab.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-7353432124957012360?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/7353432124957012360/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=7353432124957012360' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/7353432124957012360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/7353432124957012360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/dua-dimensi-shalat.html' title='Dua Dimensi Shalat'/><author><name>sigitkputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11637905021197640459</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i231.photobucket.com/albums/ee260/sigitkputra/sigit05.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-876479162895979005</id><published>2008-07-08T13:50:00.000+07:00</published><updated>2008-07-08T13:54:16.269+07:00</updated><title type='text'>Meraih Kemuliaan dengan Al-Qur`an</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" id="byline"&gt;&lt;i&gt;Oleh &lt;b&gt;Ihsan Tandjung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Al-Qur’an Al-Karim merupakan kitab suci ummat Islam yang mempunyai banyak julukan. Bilamana orang-orang beriman mau dan mampu menyikapi dan memposisikannya sebagaimana aneka julukan yang Allah sematkan kepadanya, maka insyAllah mereka akan memperoleh kemuliaan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat.&lt;img alt="" src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/Image/Gmb_Kemuliaan_Qrn.jpg" width="200" align="right" border="2" height="150" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, di antara julukan yang Allah swt berikan kepada Al-Qur’an ialah penyebutannya sebagai &lt;strong&gt;Al-Huda&lt;/strong&gt; (petunjuk).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Alif lam miim, ini (Al-Qur’an) adalah kitab yang tak ada keraguan di dalamnya menjadi petunjuk bari orang-orang yang bertaqwa.”(QS Al-Baqarah ayat 1- 2).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa membaca Al-Qur’an akan memperoleh petunjuk ke mana ia harus malangkah dalam hidupnya di dunia ini. Dan sebaliknya, bilamana manusia berusaha mencari petunjuk selain Al-Qur’an, maka ia akan tersesat dan tak tahu arah hidup.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Kedua, &lt;/em&gt;Al-Qur’an juga disebut sebagai &lt;strong&gt;Al-Furqan&lt;/strong&gt; atau pembeda.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Bulan Ramadhan adalah bulan diwahyukannya Al-Qur’an, petunjuk bagi manusia dan penjelas bagi petunjuk tersebut dan pembeda.” (QS Al-Baqarah 185).&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Orang yang membaca Al-Qur’an akan memiliki &lt;em&gt;quwwatul-furqan&lt;/em&gt; (kemampuan membedakan) antara benar dan salah, halal dan haram serta legal dan illegal di mata Allah swt. Hal ini penting karena dewasa ini begitu banyak pendapat manusia yang membingungkan. Ada yang berpendapat bahwa sesuatu hal baik, namun pendapat lain mengatakan bahwa hal tersebut jelek. Ada juga yang berpendapat sesuatu hal terpuji, tapi bagi fihak lain hal tersebut justru tercela. Manusia akan terombang-ambing bilamana dalam keadaan dunia dewasa ini tak mampu membedakan mana sebenarnya yang baik dan mana sebenarnya yang buruk.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kita melihat banyak orang mencari jalan aman dengan mengatakan netral sehingga tidak usah berpendapat, padahal sikap demikian malah melahirkan problema baru. Karena setiap pilihan sikap pada hakekatnya harus kita pertanggung-jawabkan di depan Allah swt. Setiap pilihan sikap dan perilaku bisa berkonsekuensi pahala atau dosa. Nabi Muhammad saw bersabda:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا(الترمذي)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Janganlah kalian seperti bunglon. Bila manusia banyak melakukan kebaikan maka kamu berlaku baik. Bila manusia banyak berbuat kejahatan kamu ikut pula berbuat jahat. Akan tetapi genggam eratlah jiwa-jiwa kalian. Bila manusia banyak berbuat baik maka berbuat baiklah bersama mereka. Namun bila banyak manusia berbuat jahat, maka tinggalkanlah kejahatan mereka itu.” (Tirmidzi 7/290)&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Bagaimana mungkin seseorang akan memiliki prinsip hidup bila ia tidak memiliki kemampuan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, Al-Qur’an juga disebut sebagai &lt;strong&gt;Asy-Syifaa&lt;/strong&gt; atau penawar/obat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Dan Kami wahyukan Al-Qur’an apa-apa yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS Al-Israa ayat 82).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kita temukan banyak arahan dari Nabi Muhammad saw tentang ayat-ayat Al-Qur’an tertentu yang bisa menjadi obat penawar bagi penyakit manusia. Obat di sini terutama berkenaan dengan urusan rohani dan mental yang sifatnya non-jasmani. Bahkan Al-Qur’an sanggup menjadi penawar bagi seseorang yang mendapat gangguan dari alam ghaib seperti serangan sihir atau gangguan jin.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;, Al-Qur’an merupakan &lt;strong&gt;Rahmat&lt;/strong&gt; atau ungkapan kasih sayang Allah swt kepada orang-orang beriman.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Dan Kami wahyukan Al-Qur’an apa-apa yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS Al-Israa ayat 82).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya seorang mukmin yang menghayati hal ini niscaya akan selalu gemar membaca, mengkaji bahkan meng’amalkannya sebab ia sangat berhajat akan kasih-sayang Allah swt. Ibarat kekasih menerima surat dari yang dicintainya, pasti ia akan menjaga, menyimpan baik-baik surat kekasihnya itu dan dari waktu ke waktu ia membaca kembali seraya menikmati isi surat tersebut.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Kelima&lt;/em&gt;, Al-Qur’an disebut sebagai &lt;strong&gt;Bayaanun lin-naas&lt;/strong&gt; atau penjelas bagi manusia.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“(Al-Qur’an) ini merupakan penjelas bagi manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS Ali Imran ayat 138).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Disebut demikian karena di dalamnya terdapat begitu banyak penjelasan, keterangan dan informasi mengenai alam beserta segenap isinya. Dan perlu digaris-bawahi bahwa ia bukan penjelas khusus bagi orang beriman atau bertaqwa, tapi bagi manusia pada umumnya, siapapun dia, muslim atau bukan. Oleh karena itu, belakangan ini kita jumpai di dunia barat fenomena adanya sebagian ilmuwan doktor maupun profesor menjadi tercengang dan kagum setelah berinteraksi dengan kitab suci ini. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang kemudian memperoleh hidayah dari Allah swt sehingga berikrar dua kalimat syahadat masuk Islam. Alhamdulillah.-&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-876479162895979005?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/876479162895979005/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=876479162895979005' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/876479162895979005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/876479162895979005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/meraih-kemuliaan-dengan-al-quran.html' title='Meraih Kemuliaan dengan Al-Qur`an'/><author><name>sigitkputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11637905021197640459</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i231.photobucket.com/albums/ee260/sigitkputra/sigit05.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-297704182918101138</id><published>2008-07-08T13:49:00.001+07:00</published><updated>2008-07-08T13:49:58.007+07:00</updated><title type='text'>Generasi Qur'ani yang Unik</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" id="byline"&gt;&lt;i&gt;Oleh &lt;b&gt;Ihsan Tandjung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di dalam kitab &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ma’aliim fii Ath-thariiq&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (Petunjuk Jalan), &lt;strong&gt;Sayid Qutb&lt;/strong&gt; menulis sebuah bab berjudul&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;جيل قرآنى فريد&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Generasi Qur’ani yang Unik&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Beliau menulis sebagai berikut: &lt;img alt="" src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/Image/Gen_Qur_Unik.jpg" width="200" align="right" border="2" height="232" /&gt;&lt;br /&gt;“Ada suatu kenyataan sejarah yang patut direnungkan oleh mereka yang bergerak di bidang da’wah Islamiyyah di setiap tempat dan di setiap waktu. Mereka patut merenungkannya lama-lama, karena ia mempunyai pengaruh yang menentukan bagi metode dan arah da’wah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Da’wah ini pernah menghasilkan suatu generasi manusia, yaitu generasi sahabat –semoga Allah meridhoi mereka- suatu generasi yang mempunyai ciri tersendiri dalam seluruh sejarah Islam, dalam seluruh sejarah ummat manusia. Lalu da’wah ini tidak pernah menghasilkan jenis yang seperti ini sekali lagi. Memang terdapat orang-orang itu di sepanjang sejarah. Tetapi belum pernah terjadi sekalipun juga bahwa orang-orang seperti itu berkumpul dalam jumlah yang demikian banyaknya, pada suatu tempat, sebagaimana yang pernah terjadi pada periode pertama dari kehidupan da’wah ini&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya penulis menguraikan adanya &lt;em&gt;tiga alasan&lt;/em&gt; mengapa generasi para sahabat –semoga Allah meridhoi mereka- memiliki keistimewaan yang belum dimiliki oleh generasi ummat ini sepanjang zaman sesudahnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, mereka telah memperlakukan &lt;strong&gt;Al-Qur’an sebagai satu-satunya tempat pengambilan (rujukan), standar yang menjadi ukuran dan tempat dasar berfikir&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;Selanjutnya Sayid Qutb menulis: “&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Rasulullah saw ingin mencetak suatu generasi yang jernih hatinya, jernih akalnya, jernih persepsinya, jernih perasaannya, jernih pembentukannya dari segala pengaruh lain selain dari metode Ilahi yang dikandung Al-Qur’an&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يريد صنع جيل خالص القلب خالص العقل خالص التصور خالص الشعور خالص التكوين من أي مؤثر آخر&lt;br /&gt;غير المنهج الإلهي الذي يتضمنه القرآن الكريم&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;mereka mempelajari Al-Qur’an untuk menerima perintah Allah tentang urusan pribadinya, tentang urusan golongan (jama’ah) di mana ia hidup, tentang persoalan kehidupan yang dilaluinya, ia dan golongannya. Ia menerima perintah itu untuk segera dilaksanakan setelah mendengarnya. Persis sebagaimana prajurit di lapangan menerima “perintah harian” untuk dilaksanakan segera setelah diterima&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;انما كان يتلقى القرآن ليتلقى امر الله في خاصة شأنه و شأن الجماعة التي يعيش فيها و شأن الحياة التي يحياها هو و جماعته يتلقى ذلك الامر ليعمل به فور سماعه كما يتلقى الجندي في الميدان ((الأمر اليومي)) ليعمل به فور تلقيه&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Karena itu, tidak seorangpun yang minta tambah perintah sebanyak mungkin dalam satu pertemuan. Karena ia merasa hanya akan memperbanyak kewajiban dan tanggung-jawab di atas pundaknya. Ia meras puas dengan kira-kira sepuluh ayat saja. Dihafal dan dilaksanakan. Sebagaimana disebut dalam hadits Ibnu Mas’ud yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam pendahuluan buku tafsirnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Metode menerima untuk dilaksanakan dan dikerjakan, itulah yang telah menimbulkan generasi pertama. Metode menerima untuk dipelajari dan dinikmati, itulah yang telah menelorkan generasi-generasi selanjutnya.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;mereka mengembangkan pemisahan mental secara total antara masa lalu diri di zaman jahiliah dan masa kininya dalam pelukan ajaran Islam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;كانت هناك عزلة شعورية كاملة بين ماضي المسلم في جاهليته&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;و حاضره في إسلامه&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jadi terdapat proses pencabutan diri dari lingkungan jahili, adat kebiasaan dan konsepsinya, tradisi dan hubungannya. Pencabutan diri dari kepercayaan syirik dan penanaman diri kepada aqidah tauhid. Ini adalah persimpangan jalan. Tetapi dalam dirinya ia telah bertekad tidak akan kembali lagi.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-297704182918101138?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/297704182918101138/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=297704182918101138' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/297704182918101138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/297704182918101138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/generasi-qurani-yang-unik.html' title='Generasi Qur&apos;ani yang Unik'/><author><name>sigitkputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11637905021197640459</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i231.photobucket.com/albums/ee260/sigitkputra/sigit05.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-6918121861693467567</id><published>2008-07-08T13:47:00.000+07:00</published><updated>2008-07-08T13:48:38.995+07:00</updated><title type='text'>Tiga Pilar Da’wah</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" id="byline"&gt;&lt;i&gt;Oleh &lt;b&gt;Ihsan Tandjung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Generasi awal ummat Islam yakni para sahabat &lt;em&gt;radhiyallahu ’anhum&lt;/em&gt;, merupakan generasi terbaik ummat ini. Oleh karenanya mereka memperoleh kehormatan untuk mendampingi Rasulullah Muhammad &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt; dalam perjuangan beliau sejak Islam masih lemah di Makkah hingga tegaknya tatanan Islam atau &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Daulah Islamiyah&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; di kota Madinah yang langsung dipimpin Nabi Muhammad &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;img alt="" src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/Image/Tiga_Pilar_Dwh.jpg" width="130" align="left" border="2" height="104" /&gt;Mereka merupakan generasi yang terbaik dalam meneladani Nabi Muhammad &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt; dalam berbagai aspek kehidupan. Termasuk dalam da’wah. Mereka sangat menghayati ambisi utama Rasulullah &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt;, yaitu &lt;strong&gt;&lt;em&gt;bagaimana agar manusia di dunia menjadi orang beriman sehingga selamat di dunia dan di akhirat&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Mereka tidak saja menyaksikan bagaimana gigihnya Nabi Muhammad &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt; dalam berda’wah kepada setiap manusia yang dijumpainya. Namun mereka meneladani dan turut melakukan hal serupa terhadap siapapun manusia yang mereka temui.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Para sahabat &lt;em&gt;radhiyallahu ’anhum&lt;/em&gt; biasanya tatkala berda’wah menyampaikan penjelasan ringkas saja mengenai Islam tidak panjang dan berbelit seperti kebanyakan kita di zaman sekarang. Namun uniknya, walaupun singkat tetapi tidak jarang penyampaian &lt;strong&gt;&lt;em&gt;singkat namun berisi&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; itu cukup membuat seorang musyrik atau kafir kemudian tersentuh lalu masuk Islam. Adapun sebagian besar kita di zaman modern ini kadang sudah berbicara panjang lebar hingga mulut berbusa-busa namun tidak memberi pengaruh berarti bagi pendengar apalagi sampai ia memperoleh hidayah lalu masuk Islam.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Keberhasilan para sahabat &lt;em&gt;radhiyallahu ’anhum&lt;/em&gt; dalam berda’wah tentunya karena mereka merupakan generasi terbaik dalam meneladani Rasulullah &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt; dalam segala hal, termasuk berda’wah. Sedangkan Aisyah &lt;em&gt;radhiyallahu ’anha&lt;/em&gt; mengatakan:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;كَانَ كَلَامُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلَامًا فَصْلًا يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Ucapan Rasulullah adalah &lt;strong&gt;ucapan fashlan&lt;/strong&gt; (singkat dan jelas). Setiap orang yang menyimaknya pasti segera memahaminya.” (HR Abu Dawud 12/467)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di samping itu, ada hal lain lagi yang menyebabkan Nabi Muhammad &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt; dan para sahabat &lt;em&gt;radhiyallahu ’anhum&lt;/em&gt; dimudahkan Allah &lt;em&gt;subhaanahu wa ta’aala&lt;/em&gt; merebut hati kaum &lt;em&gt;musyrik&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;kafir &lt;/em&gt;sehingga mereka mau menerima ajakan da’wah Islam. Hal ini berkaitan dengan konsistennya mereka mematuhi &lt;strong&gt;&lt;em&gt;tiga pilar da’wah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; yang disebutkan Allah &lt;em&gt;subhaanahu wa ta’aala&lt;/em&gt; di dalam Al-Qur’an, yakni:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri” (QS Fushilat ayat 33)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam ayat di atas setidaknya terdapat tiga pilar utama dalam berda’wah. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Bila seorang muslim sanggup memenuhi ketiga pilar da’wah tersebut insyaAllah ia bakal diizinkan Allah subhaanahu wa ta’aala sukses merebut hati manusia sehingga mau menyambut seruan da’wah Islam&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Ketiga pilar da’wah tersebut adalah:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pertama, ajakan secara lisan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Seorang muslim tidak mungkin atau kecil sekali kemungkinannya bakal sukses mengajak seorang manusia yang asalnya non-muslim untuk menyambut ajakan da’wah Islam bila ia tidak mau secara ekspilisit mengajaknya secara lisan kepada agama Allah &lt;em&gt;subhaanahu wa ta’aala&lt;/em&gt; yang mulia ini. Inilah yang dimaksud dengan potongan ayat di atas:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah.” &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya kita wajib menghafalkan kata-kata bertuah penuh cinta kasih bernuansa da’wah yang sering disampaikan Rasulullah &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt; kepada non-muslim:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;أَسْلِمْ تَسْلَمْ&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;”masuk Islamlah engkau, niscaya engkau bakal selamat di dunia dan akhirat”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kedua, akhlak mulia (keteladanan).&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Selain itu, seorang muslim juga perlu memastikan bahwa ia tidak hanya &lt;strong&gt;&lt;em&gt;om-do (omong doang). &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Tapi ia perlu memastikan bahwa ucapannya didukung dengan perilaku nyata yang menunjukkan keselarasan antara ucapan dan tindakan. Hal ini akan menjadikan dirinya memiliki nilai keteladanan di hadapan obyek da’wahnya. Salah satu kesulitan kita dewasa ini mengajak kaum non-muslim masuk Islam adalah karena adanya fakta pahit bahwa sebagian ummat Islam sendiri tidak memperlihatkan akhlak terpuji sehingga kaum non-muslim belum apa-apa sudah kehilangan kepercayaan terhadap kita, dan akhirnya hilang pula kepercayaan mereka terhadap agama kita, Al-Islam. Inilah yang diisyaratkan Allah dalam ayat di atas:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;وَعَمِلَ صَالِحًا&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“…mengerjakan amal yang saleh…”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ketiga, konsistensi dalam memelihara identitas keIslaman.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Pilar ketiga yang akan menyempurnakan kesuksesan da’wah seorang muslim adalah konsistensinya dalam menjaga dan mempertahankan identitas keIslamannya. Ke manapun ia pergi dan dengan siapapun ia berinteraksi hendaknya ia selalu memperlihatkan identitas keIslamannya betapapun situasinya. Jangan hendaknya ia membaca doa sebelum makan, misalnya, ketika di tengah kerumunan saudara muslimnya saja. Namun ketika ia makan di sebuah restoran di tengah masyarakat asing ia segan atau malu atau bahkan takut membaca doa makan. Padahal boleh jadi dengan ia konsisten membaca doa makan hal itu menjadi stimulans bagi terjadinya proses da’wah. Inilah makna potongan ayat yang berbunyi:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;”...dan ia berkata, "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-6918121861693467567?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/6918121861693467567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=6918121861693467567' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/6918121861693467567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/6918121861693467567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/tiga-pilar-dawah.html' title='Tiga Pilar Da’wah'/><author><name>sigitkputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11637905021197640459</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i231.photobucket.com/albums/ee260/sigitkputra/sigit05.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-6957070370267887218</id><published>2008-07-08T13:46:00.000+07:00</published><updated>2008-07-08T13:47:08.051+07:00</updated><title type='text'>Semangat Mengajak Manusia ke Jalan Allah</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" id="byline"&gt;&lt;i&gt;Oleh &lt;b&gt;Ihsan Tandjung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bilamana seorang muslim berhasil menyesuaikan ambisi hidupnya dengan ambisi hidup Nabi Muhammad &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt;, niscaya ia akan menjadi seorang muslim yang selalu bersemangat mengajak manusia ke jalan Allah &lt;em&gt;subhaanahu wa ta’aala&lt;/em&gt;. Ambisi utama Nabi kita Muhammad &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt; dalam hidupnya di dunia yang fana ini ialah menginginkan keimanan dan keselamatan atas manusia.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ &lt;strong&gt;حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;”Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, &lt;strong&gt;sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu.&lt;/strong&gt;” (QS AtTaubah ayat 128)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;img alt="" src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/Image/Semangat_Dawah.jpg" width="150" align="left" border="2" height="112" /&gt;Setiap manusia yang berjumpa dengan Nabi Muhammad &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam &lt;/em&gt;diperlakukan oleh beliau sebagai sasaran da’wah. Nabi &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt; tidak pernah melewatkan satupun kesempatan berjumpa dengan manusia kecuali orang itu diajaknya mengikuti jalan Allah &lt;em&gt;ta’aala.&lt;/em&gt; Beliau sangat ingin agar setiap manusia merasakan manis dan lezatnya iman dan Islam. Beliau sangat yakin bahwa hanya dengan menempuh jalan Allah &lt;em&gt;ta’aala&lt;/em&gt; sajalah seseorang bakal selamat hidupnya di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, Nabi &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt; membangkitkan semangat agar ummatnya seperti beliau dalam mengajak manusia ke jalan Allah &lt;em&gt;ta’aala.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ (متفق عليه)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Demi Allah, jika Allah memberikan petunjuk-hidayah kepada seseorang karena ajakanmu, maka itu lebih menguntungkan bagimu daripada mendapat onta merah.” (Bukhary-Muslim)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika kita renungkan hadits di atas, maka pasti seorang muslim akan bersemangat mengajak manusia agar memperoleh hidayah Allah &lt;em&gt;ta’aala.&lt;/em&gt; Bayangkan, bila kita sukses mengajak seseorang sehingga Allah &lt;em&gt;ta’aala &lt;/em&gt;izinkan orang itu memperoleh hidayah-Nya, maka bagi kita yang mengajak dijamin bakal memperoleh reward berupa sesuatu yang lebih baik daripada seekor &lt;strong&gt;&lt;em&gt;onta merah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;..! Onta merah merupakan kendaraan yang dinilai paling mewah di zaman Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ’anhum. Mungkin kalau di zaman kita sekarang seperti mobil Jaguar, Rolls Royce atau bahkan Maybach yang konon harganya mencapai dua puluh miliar rupiah per unit..!&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bilamana Nabi Muhammad &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt; berjumpa dengan seorang non-muslim beliau segera mengucapkan kalimat ajakan da’wah penuh cinta kasih yang singkat, jelas dan bermakna:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;أَسْلِمْ تَسْلَمْ&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;”Masuk Islam-lah, niscaya engkau bakal selamat di dunia dan di akhirat.” (HR Ibnu Majah 1/95)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seorang sahabat Nabi &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt; bernama Adi bin Hatim &lt;em&gt;radhiyallahu ’anhu&lt;/em&gt; menceritakan bagaimana ia ketika pertama kali berjumpa dengan Nabi &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt;. Saat itu ia masih beragama Nasrani. Ketika berjumpa dengan Nabi &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt;, maka kalimat pertama yang langsung disampaikan Rasulullah &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt; kepadanya adalah kalimat di atas. Jadi tanpa keraguan bahkan penuh cinta dan keyakinan, Nabi &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt; mengajak Adi bin Hatim &lt;em&gt;radhiyallahu ’anhu&lt;/em&gt; untuk langsung memeluk agama Islam dengan jaminan bakal selamat di dunia dan di akhirat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seyogyanya seorang muslim berusaha mengikuti semangat dan langkah da’wah yang dicontohkan Rasulullah &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt;. Hendaknya kita berusaha menyingkirkan segenap keraguan dan keengganan kita mengajak siapapun ke jalan keselamatan Islam. Dengan selalu mengingat betapa besarnya karunia iman dan Islam bagi kehidupan seseorang. &lt;strong&gt;Justru jika kita sudah mengajak orang lain ke jalan Allah &lt;em&gt;ta’aala &lt;/em&gt;berarti kita telah memenuhi hak asasinya sebagai seorang manusia sekaligus hamba Allah &lt;em&gt;ta’aala&lt;/em&gt;. Hak asasinya untuk mendengar seruan kebenaran untuk selanjutnya bebas memilih menyambutnya atau mengingkarinya. &lt;/strong&gt;Soal ia akhirnya beriman atau tidak itu bukan urusan kita. Yang penting kewajiban kita telah gugur dengan kita sudah berda’wah mengajak mereka ke jalan Allah &lt;em&gt;ta’aala.&lt;/em&gt; Sebab pada akhirnya hak memberikan hidayah atau membiarkan seseorang tetap sesat adalah hak dan kuasa Alllah &lt;em&gt;ta’aala.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;” Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS AnNahl ayat 125)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Inilah hakekat ummat Islam menjadi &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Rahmatan lil ‘aalamiin&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; (rahmat bagi segenap alam). Alangkah jauhnya dari berperan menjadi rahmat bilamana ummat Islam yang telah memperoleh ni’mat paling istimewa, yakni ni’mat iman dan Islam, kemudian tidak peduli dengan nasib fihak lain yang hidupnya belum mengikuti petunjuk-hidayah Allah &lt;em&gt;ta’aala.&lt;/em&gt; Alangkah bakhilnya kita terhadap urusan iman dan masuk surga. Alangkah egoisnya kita bilamana kita tahu dan yakin bahwa iman dan Islam ini akan menyelamatkan kita di alam kubur apalagi di akhirat kelak nanti, sedangkan teman kerja kita, atau tetangga kita, bahkan saudara kita yang bukan muslim, bakal celaka di alam kuburnya serta di akhirat nanti. Namun kita sama sekali tidak berupaya menyelamatkan mereka semata karena kita lebih memperhatikan kemaslahatan kondisi perasaan kita dan mengabaikan kewajiban kita berda’wah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Alangkah ironisnya bila kita melihat berbagai fihak dan kelompok lain demikian bersemangat dalam menyebarkan misi ajarannya padahal mereka sesungguhnya dalam kesesatan.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Sedangkan kita yang sejatinya berada dalam kebenaran dan rahmat Allah &lt;em&gt;ta’aala&lt;/em&gt; justru tidak berfikir dan berusaha menyebarkan ajaran Allah &lt;em&gt;ta’aala&lt;/em&gt; yang sebenarnya bakal menyelamatkan siapapun yang mau menerima undanganNya...!&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ya Allah, limpahkanlah penghargaan dan kehormatan setinggi-tingginya melalui sholawat dan salam kami bagi NabiMu Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam, da’i sempurna teladan kami, yang telah menunjukkan kepada kami jalan keimanan dan keselamatan hakiki... Walhamdulillah...&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-6957070370267887218?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/6957070370267887218/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=6957070370267887218' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/6957070370267887218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/6957070370267887218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/semangat-mengajak-manusia-ke-jalan.html' title='Semangat Mengajak Manusia ke Jalan Allah'/><author><name>sigitkputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11637905021197640459</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i231.photobucket.com/albums/ee260/sigitkputra/sigit05.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-4299815166346735880</id><published>2008-07-08T13:44:00.000+07:00</published><updated>2008-07-08T13:45:17.355+07:00</updated><title type='text'>Menjalani Zaman Penuh Fitnah</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" id="byline"&gt;&lt;i&gt;Oleh &lt;b&gt;Ihsan Tandjung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Zaman yang sedang kita jalani dewasa ini merupakan zaman sarat fitnah. Banyak pesan Nabi Muhammad &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt; mengenai fitnah di akhir zaman yang sangat cocok menggambarkan zaman yang sedang kita lalui saat ini. Inilah zaman ketika giliran kemenangan di dunia bukan berada di fihak ummat Islam. Ini merupakan zaman di mana Allah &lt;em&gt;subhaanahu wa ta’aala&lt;/em&gt; menguji orang-orang beriman. Siapa di antara mereka yang mengekor kepada orang-orang kafir, siapa di antara mereka yang emas imannya dan bahkan rela berjihad di jalan Allah &lt;em&gt;subhaanahu wa ta’aala&lt;/em&gt; hingga meraih kemuliaan mati syahid.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;”Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS Ali Imran 140)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam ayat di atas Allah &lt;em&gt;subhaanahu wa ta’aala&lt;/em&gt; menegaskan bahwa adakalanya ummat Islam memperoleh kemenangan dalam medan peperangan namun adakalanya kaum musyrikin-kuffar yang menang. Ini merupakan perkara biasa dalam kehidupan di dunia yang fana. Dunia merupakan tempat di mana segala keadaan berubah silih berganti, tidak ada yang tetap dan langgeng. Kadang manusia menang, kadang kalah. Kadang lapang, kadang sempit. Susah-senang, sehat-sakit, kaya-miskin, terang-gelap, siang-malam, berjaya-terpuruk semuanya silih berganti dan selalu bergiliran. Itulah dunia. Berbeda dengan di akhirat nanti. Manusia hanya punya satu dari dua pilihan keadaan. Pertama, ia mungkin hidup abadi dalam kesenangan hakiki di dalam surga Allah subhaanahu wa ta’aala. Atau sebaliknya, hidup kekal dalam penderitaan sejati di neraka Allah &lt;em&gt;subhaanahu wa ta’aala&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sedemikian kelamnya zaman yang sedang kita jalani dewasa ini sehingga seorang Ulama Pakistan yang sempat tinggal lama di Amerika menyebutnya sebagai &lt;strong&gt;&lt;em&gt;A Godless Civilization&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (Peradaban Yang Tidak Bertuhan). Ahmad Thompson, seorang penulis muslim berkebangsaan Inggris menyebutnya sebagai &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sistem Dajjal&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Ia mengatakan bahwa sejak runtuhnya Khilafah Islam terakhir -sekitar 80-an tahun yang lalu- dunia didominasi oleh fihak kuffar. Perjalanan ummat manusia semakin menjauh dari nilai-nilai Kenabian, ajaran Islam. Berbagai sisi kehidupan diarahkan oleh nilai-nilai kekufuran sehingga kondisinya saat ini sudah sangat kondusif untuk kedatangan fitnah paling dahsyat, yakni fitnah &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Dajjal.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Semenjak runtuhnya kekhalifahan terakhir, ummat Islam menjadi laksana anak-anak ayam kehilangan induk. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Masing-masing negeri kaum muslimin mendirikan karakter kebangsaannya sendiri-sendiri seraya meninggalkan dan menanggalkan ikatan aqidah serta akhlak Islam sebagai identitas utama bangsa&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Akhirnya tidak terelakkan bahwa ummat Islam yang jumlahnya di seantero dunia mencapai bilangan satu setengah miliar lebih, tidak memiliki kewibawaan karena mereka terpecah belah tidak bersatu sebagai suatu blok kekuataan yang tunggal dan mandiri. Nabi Muhammad &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt; sudah mensinyalir bahwa akan muncul babak keempat perjalanan ummat Islam, yakni kepemimpinan para &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Mulkan Jabriyyan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (Raja-raja yang memaksakan kehendak). Inilah babak yang sedang dilalui ummat dewasa ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;img alt="" src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/Image/Mnjlani_Zmn.jpg" width="150" align="left" border="2" height="113" /&gt;Jangankan kaum muslimin memimpin dunia, bahkan mereka menjadi ummat yang diarahkan (baca: dieksploitasi) oleh ummat lainnya. Inilah babak paling kelam dalam sejarah Islam. Allah &lt;em&gt;subhaanahu wa ta’aala&lt;/em&gt; gilir kepemimpinan dunia dari kaum mu’minin kepada kaum kafirin. Inilah zaman kita sekarang. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;We are living in the darkest ages of the Islamic history&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Dunia menjadi morat-marit sarat fitnah. Nilai-nilai jahiliah modern mendominasi kehidupan. Para penguasa mengatur masyarakat bukan dengan bimbingan wahyu Ilahi, melainkan hawa nafsu pribadi dan kelompok. Pada babak inilah tegaknya Sistem Dajjal. Berbagai lini kehidupan ummat manusia diatur dengan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dajjalic values&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (nilai-nilai Dajjal). Segenap urusan dunia dikelola dengan nilai-nilai materialisme-liberalisme-sekularisme, baik politik, sosial, ekonomi, budaya, medis, pertahanan-keamanan, militer bahkan keagamaan. Masyarakat kian dijauhkan dari pola hidup berdasarkan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;manhaj Kenabian&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam bidang &lt;strong&gt;&lt;em&gt;politik &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;ummat dipaksa mengikuti budaya -tanpa rasa malu dan rasa takut kepada Allah subhaanahu wa ta’aala- di mana seorang manusia menawarkan dirinya menjadi pemimpin, bahkan dengan over-confident mengkampanyekan dirinya agar dipilih masyarakat. Sambil menebar setumpuk janji kepada rakyat. Padahal Rasulullah &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt; bersabda:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ أُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;”Hai Abdurrahman, janganlah kamu meminta pangkat kedudukan! Apabila kamu diberi karena memintanya, maka hal itu akan menjadi suatu beban berat bagimu. Lain halnya apabila kamu diberi tanpa adanya permintaan darimu, maka kamu akan ditolong.” (HR Muslim 9/343)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu di bidang &lt;strong&gt;&lt;em&gt;ekonomi &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;keuangan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; ummat dipaksa tunduk pada &lt;strong&gt;&lt;em&gt;tiga pilar setan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, yaitu Bunga Bank (baca: &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Riba&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;), Uang Fiat (baca: &lt;em&gt;&lt;strong&gt;uang kertas&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;) dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Money Creation&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; yaitu sistem yang memberi kekuasaan pada bank untuk melakukan proses penciptaan uang. Padahal Islam memiliki konsep yang sangat baku tentang uang dan segala bentuk transaksi yang melibatkan uang. Bukan hanya sebatas teori tetapi blue print keuangan Islam memang pernah diwujudkan dalam bentuk nyata sejak masa awal ke-Khalifahan Islam dan terbukti hasilnya berupa kemakmuran bagi seluruh rakyat. Itulah yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an sebagai &lt;strong&gt;&lt;em&gt;dhzahab&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(emas) dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;fidhdhoh&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;(perak) dan secara empiris berupa &lt;strong&gt;&lt;em&gt;dinar&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;dirham.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Suatu jenis mata uang yang memiliki intrinsic value serta aman dari inflasi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di bidang &lt;strong&gt;&lt;em&gt;hukum&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; ummat dipaksa tunduk pada nilai-nilai legal dan illegal (baca: halal dan haram) berdasarkan hawa nafsu para law-makers. Kita bisa menyaksikan suatu saat perilaku homoseksual dan lesbianisme dicap illegal-haram namun pada lain waktu dianggap legal-halal. Padahal Allah berfirman: ”&lt;em&gt;Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir&lt;/em&gt;.” (QS Al-Maidah 44). Bahkan sistem Dajjal mencap kebanyakan orang-orang beriman pejuang tegaknya agama Allah &lt;em&gt;subhaanahu wa ta’aala&lt;/em&gt; sebagai teroris. Dan menempatkan para kriminal pelanggar berat HAM sebagai pimpinan negara-negara maju.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di bidang &lt;strong&gt;&lt;em&gt;pertahanan keamanan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; ummat dipaksa tunduk pada konsep ashobiyyah (fanatisme kelompok). Angkatan militer berbagai negara dewasa ini dibentuk untuk mempertahankan spirit &lt;strong&gt;&lt;em&gt;right or wrong is my country&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Barangkali selain angkatan militer Hamas di Palestina, tak ada satupun kekuatan hankam yang dibentuk dengan cita-cita menegakkan kalimat Allah atau mati syahid. &lt;strong&gt;Kebanyakan prajurit militer modern menjadi budak jalur komandonya. Mereka tidak pernah dibina untuk menjadi hamba Allah sejati.&lt;/strong&gt; Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman: &lt;em&gt;”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Quran”&lt;/em&gt; (QS At-Taubah 111)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;seni &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;budaya &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;telah menjadi industri syahwat. Sangat langka dijumpai produk di bidang ini yang bila dinikmati membawa manusia menjadi lebih dekat dan mengingat Allah Yang Maha Indah. Hampir semua film, tontonan, nyanyian, tarian maupun novel menyeret manusia kepada pemuasan syahwat semata tanpa pandang halal-haramnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sungguh, nilai-nilai Dajjal (Dajjalic Values) telah mendominasi segenap lini kehidupan ummat manusia dewasa ini. Sangat boleh jadi kedatangan oknum Dajjal sudah sangat dekat. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sistem Dajjal telah memperoleh kekuasaan yang cukup di seluruh dunia, sehingga begitu si Dajjal dikenali dan diakui, Dajjal (makhluk bermata satu) bisa langsung dinobatkan sebagai pimpinan yang dinanti-nanti sebagaimana diisyaratkan dalam the great seal yang tergambar di lembar uang satu dollar Amerika Serikat&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Sekaranglah saatnya kita bersikap dan memilih.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apakah kita mau mengikuti genderang tarian mengawetkan babak keempat Sistem Dajjal ini? Ataukah kita secara aktif mempersiapkan diri menyongsong babak kelima, yakni babak &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Khilafatun ‘ala Minhaj An-Nubuwwah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (kekhalifahan mengikuti pola Kenabian) sebagaimana disinyalir Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam bakal menjadi babak lanjutan setelah babak penuh fitnah ini berlalu?&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-4299815166346735880?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/4299815166346735880/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=4299815166346735880' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/4299815166346735880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/4299815166346735880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/menjalani-zaman-penuh-fitnah.html' title='Menjalani Zaman Penuh Fitnah'/><author><name>sigitkputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11637905021197640459</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i231.photobucket.com/albums/ee260/sigitkputra/sigit05.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-7971829911964569907</id><published>2008-07-08T13:41:00.000+07:00</published><updated>2008-07-08T13:44:12.147+07:00</updated><title type='text'>Islam Lengkap - Sempurna - Saling Menyempurnakan</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" id="byline"&gt;&lt;i&gt;Oleh &lt;b&gt;Ihsan Tandjung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Allah &lt;em&gt;subhaanahu wa ta’aala&lt;/em&gt; memerintahkan orang-orang beriman agar berIslam dengan masuk ke dalam ajaranNya secara totalitas. Bahkan perintah Allah &lt;em&gt;subhaanahu wa ta’aala&lt;/em&gt; tersebut diiringi dengan keharusan menjauh dari langkah-langkah syetan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً&lt;br /&gt;وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;em&gt;”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah ayat 208)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari sini kita dapat simpulkan bahwa di antara makna “janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan” ialah mengikuti bagian tertentu saja dari ajaran Islam. Sementara bagian lainnya mengikuti ajaran selain Islam. Sedangkan ”Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya” berarti masuk ke dalam ajaran Islam secara totalitas. Atau berarti ”melaksanakan segenap ajaran Allah &lt;em&gt;subhaanahu wa ta’aala&lt;/em&gt; dalam seluruh aspek kehidupan.” Baik dalam urusan kecil maupun besar. Baik itu urusan lahir maupun batin. Baik itu dalam perkara duniawi maupun ukhrawi. Entah itu aspek ideologi, moral, sosial, seni-budaya, politik, ekonomi, pendidikan, hukum, pertahanan keamanan maupun militer. Baik itu urusan kehidupan pribadi maupun kemasyarakatan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pendek kata tidak ada satupun gerak-gerak seorang muslim kecuali ia kembalikan pengaturannya kepada Allah &lt;em&gt;subhaanahu wa ta’aala&lt;/em&gt; sebagai rabb, Nabi Muhammad &lt;em&gt;shollallahu ’alaih wa sallam&lt;/em&gt; sebagai teladan maupun Islam sebagai &lt;em&gt;dien &lt;/em&gt;(way of life). Inilah rahasia ucapan:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;“Aku ridha Allah sebagai Rabb, Nabi Muhammad sebagai Rasul dan Islam sebagai Dien (jalan hidup)” (HR Muslim 2/329)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seorang muslim tidak mungkin -misalnya- beribadah secara Islam, berideologi liberal, berakhlak sekuler, beraqidah pluralisme, berekonomi yahudi, berpolitik machiavelli. Bila seorang muslim tampil seperti itu berarti ia telah membiarkan dirinya mengalami ”&lt;strong&gt;&lt;em&gt;split personality&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;”. Kepribadian tidak utuh sebagai seorang muslim-mu’min. Dan inilah yang memang dikehendaki oleh musuh-musuh Allah &lt;em&gt;ta’aala, &lt;/em&gt; yakni syetan. Mereka telah berhasil dalam menjadikan kebanyakan Bani Israil seperti itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="ArabCenter"&gt;أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;em&gt;”Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.” (QS Al-Baqarah ayat 85)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bani Israil merupakan kaum yang semula memperoleh banyak karunia dari Allah &lt;em&gt;ta’aala&lt;/em&gt; namun mereka tidak pandai mensyukurinya. Sehingga mereka akhirnya dimurkai Allah &lt;em&gt;ta’aala&lt;/em&gt;. Di antara keburukan mereka adalah mematuhi ajaran Allah &lt;em&gt;ta’aala &lt;/em&gt;dalam hal yang mereke senangi saja. Namun dalam hal yang tidak disukai mereka mendurhakai Nabiyullah &lt;em&gt;’alaihimus salam&lt;/em&gt; yang menyuruh mereka. Mereka memilih-milih dan memilah-milah ajaran Allah &lt;em&gt;ta’aala.&lt;/em&gt; Mereka tidak mau tunduk sepenuhnya kepada Allah &lt;em&gt;ta’aala.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;img alt="" src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/Image/Islam_Lengkap.jpg" width="115" align="right" border="2" height="113" /&gt;Pertarungan ideologi yang terjadi hingga dewasa ini ialah antara kalangan manusia yang cenderung ingin mentaati Allah &lt;em&gt;ta’aala &lt;/em&gt;dan RasulNya tanpa reserve berhadapan dengan kalangan manusia yang dalam mentaati Allah &lt;em&gt;ta’aala&lt;/em&gt; dan RasulNya bersikap seperti Bani Israil. Bilamana ajaran tersebut dirasa sesuai dengan seleranya, maka mereka mentaati. Namun bila dianggap tidak cocok, baik dengan selera maupun kemodernan zaman, maka mereka akan mengatakan bahwa Islam tidaklah seperti itu. Mereka melabelnya sebagai Islam yang menyimpang, radikal, ekstrim dan berlebihan. Para penganut sejati Islam mereka juluki sebagai &lt;em&gt;&lt;strong&gt;fundamentalis &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;bahkan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;teroris &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;yang tidak sanggup menyesuaikan diri dengan kemodernan zaman dan masyarakat internasional.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bilamana seseorang mengikuti sikap bani Israil, mengikuti Al-Kitab dengan sikap pilih-kasih, mengimani sebagian dan mengingkari sebagian lainnya, maka ia hendaknya bersiap-siap menghadapi konsekuensinya. Allah &lt;em&gt;ta’aala&lt;/em&gt; menjanjikan dua akibat yang akan dideritanya:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;(1) &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kenistaan dalam kehidupan dunia serta&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;(2) &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Dikembalikan kepada siksa yang sangat berat pada hari kiamat&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sejujurnya, kenistaan atau kehinaan di dunia tampaknya sedang melanda ummat Islam di era penuh fitnah dewasa ini. Apakah kehinaan ini semata merupakan ujian kesabaran dari Allah &lt;em&gt;ta’aala &lt;/em&gt;dalam menghadapi kezaliman kaum kuffar yang memang sedang diberi izin Allah &lt;em&gt;ta’aala&lt;/em&gt; untuk mendapat giliran mendominasi dunia? Ataukah ini semua merupakan buah dari sikap ummat Islam yang mengikuti jejak Bani Israil? Jangan-jangan mereka mengimani sebagian Al-Qur’an dan mengingkari sebagian lainnya sehingga kehinaan merupakan konsekuensi yang dijanjikan Allah &lt;em&gt;ta’aala &lt;/em&gt;pasti terjadi. Jika demikian adanya, alangkah mengerikannya nasib ummat Islam dewasa ini. Sudahlah mereka terhina di dunia akibat bersikap pilih-kasih terhadap ajaran Islam sambil berfaham liberal dan sekuler. Sedangkan di akhirat kelak siksa yang sangat berat menanti mereka. &lt;em&gt;Na’udzubillahi min dzaalika.-&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-7971829911964569907?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/7971829911964569907/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=7971829911964569907' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/7971829911964569907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/7971829911964569907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/islam-lengkap-sempurna-saling.html' title='Islam Lengkap - Sempurna - Saling Menyempurnakan'/><author><name>sigitkputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11637905021197640459</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i231.photobucket.com/albums/ee260/sigitkputra/sigit05.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-5541631811667775394</id><published>2008-07-08T13:34:00.000+07:00</published><updated>2008-07-08T13:36:23.932+07:00</updated><title type='text'>Energi yang Tak Pernah Habis</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="postedby"&gt;Oleh: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/author/nuh" title="Profile of Muhammad Nuh"&gt;Muhammad Nuh&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;dakwatuna.com -&lt;/strong&gt; Hidup sebagai sesuatu kadang seperti tulisan spanduk yang terikat di antara dua tiang. Hujan, panas, dan tangan-tangan usil bisa melunturkan keberadaan tulisan. Warna menjadi kabur, dan tulisan pun mulai luntur. Seperti itu pula mungkin ketika seseorang hidup sebagai muslim.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tak ada iman tanpa ujian. Kalimat itulah yang mesti dipegang seorang mukmin dalam mengarungi hidup. Susah senang adalah di antara ruang-ruang kehidupan di mana seorang mukmin diuji keimanannya. Ada yang lulus. Ada juga yang mesti mengulang.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mereka yang berguguran dalam perjuangan Islam adalah di antara yang mesti mengulang. Waktu memberikan mereka peluang untuk bangkit di lain kesempatan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah saw. bersabda, “Allah menguji hamba-Nya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang keluar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang keluar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah).” (HR. Athabrani)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ujian perjalanan keimanan seseorang tidak selalu pada hal besar. Bisa jadi terselip dalam kehidupan sehari-hari. Ada ujian tubuh yang rentan sakit. Ada rezeki yang muncul dalam tetesan kecil. Kadang ada, tapi kebanyakan tidak ada. Hidup menjadi sangat susah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Inilah ujian sehari-hari yang bisa menentukan seperti apa mutu seorang mukmin. Kalau hasil ujian menunjuk titik sabar, rezeki yang sedikit menjadi berkah. Sedikit, tapi punya mutu istimewa.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seperti itulah yang pernah diungkapkan Rasulullah saw. pada beberapa sahabat. “Sesungguhnya Allah &lt;em&gt;Azza Wajalla&lt;/em&gt; menguji hambanya dengan rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Kalau dia ridha dengan bagian yang diterimanya, maka Allah akan memberkahinya dan meluaskan pemberian-Nya. Kalau dia tidak ridha dengan pemberian-Nya, maka Allah tidak akan memberinya berkah.” (HR. Ahmad)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ujian seperti itu memang terkesan sederhana. Mudah. Tapi, akan beda pada dunia nyata. Rezeki yang terasa kurang akan berdampak pada sisi lain: gizi keluarga, pendidikan anak, mobilitas gerak, dana dakwah, dan sebagainya. Belum lagi soal status sosial di tengah masyarakat. Sulit mengajak orang kembali pada Islam kalau status sosial si pengajak kurang dianggap.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ujian rezeki yang terkesan sederhana, ternyata memang berat. Kalau saja bukan karena kasih sayang Allah swt., seorang mukmin hanya akan berputar-putar pada masalah diri dan keluarganya. Kapan ia akan berjuang. Bagaimana ia berdaya mengangkat beban umat yang begitu berat: masalah kebodohan, perpecahan, bahkan kemiskinan umat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika merujuk pada pengalaman Rasul dan para sahabat, kenyataan hidup memang tidak begitu beda. Sedikit di antara hamba-hamba Allah di masa itu yang kaya. Termasuk Rasul sendiri. Beliau dikenal yatim yang berbisnis pada usaha pamannya, Abu Thalib. Begitu pun para sahabat yang sebagian besar berstatus budak dan buruh. Apa yang bisa dilakukan pada kelompok seperti itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Itulah yang pernah dialami Nabi Nuh dan para aktivis di sekitarnya. Mereka dianggap hina karena status sosial yang rendah. Allah swt. menggambarkan keadaan itu dalam surah Hud ayat 27. “&lt;em&gt;Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, ‘Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja. &lt;/em&gt;&lt;em&gt;Dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami. Bahkan, kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta&lt;/em&gt;.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun, sejarah memberikan pelajaran berharga. Para pejuang teladan yang dianggap punya status sosial rendah itu mampu memberikan bukti. Bahwa, kekayaan bukan penentu sukses-tidaknya sebuah perjuangan. Ada hal lain yang jauh lebih penting sebagai energi utama. Energi utama itu tersimpan dalam kekuatan ruhiyah yang tinggi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah saw. mengungkapkan itu dalam sebuah sabdanya. “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dalam segala kebaikan. Peliharalah apa-apa yang menguntungkan kamu dan mohonlan pertolongan Allah. Jangan lemah semangat (putus asa). Jika ditimpa suatu musibah janganlah berkata, ‘Oh andaikata aku tadinya melakukan itu tentu berakibat begini dan begitu.’ Tetapi, katakanlah, ‘Ini takdir Allah dan apa yang dikehendaki Allah pasti dikerjakan-Nya.” Ketahuilah, sesungguhnya ucapan ‘andaikan’ dan ‘jikalau’ hanya membuka peluang bagi karya setan.” (HR. Muslim)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kenyataannya, energi yang dimiliki para pejuang Islam dari masa ke masa ada dalam ruhani mereka. Mereka begitu dekat dengan Yang Maha Kuat, Allah swt. Siang mereka seperti pendekar yang menggempur musuh dengan gagah berani. Tapi malam, mereka kerap menangis dalam hamparan sajadah karena hanyut dalam zikrullah. Hati mereka begitu terpaut dalam kasih sayang Allah swt.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Suatu kali Rasulullah saw. meminta Ibnu Mas’ud membaca Alquran. Ibnu Mas’ud agak kaget. “Bagaimana mungkin saya membacakan pada Anda Alquran, padahal ia datang melalui Anda?” Rasulullah saw. pun meminta Ibnu Mas’ud untuk membaca. Dan sahabat Rasul itu pun membaca surah An-Nisa.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Satu demi satu ayat dalam surah An-Nisa itu dibaca Ibnu Mas’ud. Hingga pada ayat ke-41. Rasul pun menangis. Tangisnya begitu jelas, hingga Ibnu Mas’ud menghentikan bacaannya. Ayat ke-41 itu berbunyi, “&lt;em&gt;Maka bagaimanakah apabila Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)&lt;/em&gt;.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Itulah energi yang begitu kuat. Sebuah kekuatan yang bisa memupus keraguan, kemalasan, dan rasa takut. Sebuah kekuatan yang bisa mengecilkan bentuk ujian hidup apa pun. Termasuk, ujian kemiskinan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-5541631811667775394?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/5541631811667775394/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=5541631811667775394' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/5541631811667775394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/5541631811667775394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/energi-yang-tak-pernah-habis.html' title='Energi yang Tak Pernah Habis'/><author><name>sigitkputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11637905021197640459</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i231.photobucket.com/albums/ee260/sigitkputra/sigit05.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-272527462382586467</id><published>2008-07-08T13:32:00.000+07:00</published><updated>2008-07-08T13:33:23.423+07:00</updated><title type='text'>Buah Keikhlasan</title><content type='html'>&lt;span class="postedby"&gt;Oleh: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/author/iman%20santoso" title="Profile of Iman Santoso, Lc"&gt;Iman Santoso, Lc&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;img class="alignright size-medium wp-image-597" style="margin: 5px; float: right;" title="qs-al-ikhlash_web" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/05/qs-al-ikhlash_web.jpg" alt="Ayat Al Qur\'an surat Al Ikhlash" width="250" height="180" /&gt;&lt;strong&gt;dakwatuna.com&lt;/strong&gt; - Ikhlas adalah satu kata yang sangat mudah diucapkan oleh setiap orang, termasuk orang munafik dan kafir sekalipun. Tetapi sejatinya kata inilah yang paling berat dan paling sulit untuk direalisasikan. Terkadang para dai mampu menjaga keikhlasan di awal perjalanan, tetapi di tengah jalan berbagai macam ujian dan cobaan menghadangnya sehingga dia menjadi kendur, luntur dan jatuh kecebur sumur riya’ dan ujub. &lt;em&gt;N&lt;/em&gt;&lt;em&gt;a’udzubillahi min dzaalik&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in; text-align: justify;"&gt;Akumulasi dari hati yang bersih dan akhlak yang terpuji menyatu pada keikhlasan. Sementara, tanpa keikhlasan tidak ada lagi hati dan akhlak. Hati kosong dan gersang menjadi sarang penyakit. Mulut berbusa mengeluarkan kata-kata tanpa makna. Anggota badan bekerja bagai robot kasar tanpa rasa dan hati. Sampai-sampai orang yang sekaliber Umar bin Abdul ‘Aziz r.a. pun sangat takut akan penyakit riya’. Ketika ia berceramah kemudian muncul rasa takut dan penyakit ujub, segera ia memotong ucapannya. Dan ketika menulis karya tulis dan takut ujub, maka segera merobeknya. Lalu bagaimana mungkin seorang yang disebut dai berceramah berlama-lama sementara panggilan adzan tidak dihiraukan dengan alasan yang sepele: Tanggung! Ingat, &lt;em&gt;“Kemudian datanglah setelah mereka, pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti keinginannya (syahwat), maka mereka kelak akan tersesat.”&lt;/em&gt; (Maryam: 59)&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in; text-align: justify;"&gt;Keikhlasan merupakan mutiara teramat mahal yang harus dimiliki setiap mukmin dan para dai. Mutiara yang harus senantiasa dibersihkan dari berbagai macam kotoran dan debu. Apalagi bagi qiyadah dakwah. &lt;em&gt;Jundiyah muthi’ah&lt;/em&gt; (ketentaraan yang taat) dan &lt;em&gt;qiyadah mukhlishoh&lt;/em&gt; (kepemimpinan yang ikhlas) itulah kedua pilar utama gerakan Islam. Keduanya harus berjalan secara padu dan harmonis untuk meraih kesuksesan harakah dakwah di medan kehidupan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in; text-align: justify;"&gt;Keikhlasan membuat beban menjadi ringan, kesusahan menjadi hiburan, musibah menjadi pembersih hati, penjara menjadi pesantren, pengusiran menjadi rihlah gerakan, harta menjadi jalan kontribusi yang signifikan, dan kekuasaan menjadi amanah perjuangan. Sungguh indah kata-kata mutiara Ibnu Taimiyah yang diungkapkan secara jujur, “Penahananku adalah perenungan, pengusiranku adalah tamasya, dan pembunuhanku adalah syahid.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Buah Keikhlasan &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in; text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya pohon keikhlasan akan menghasilkan buah keikhlasan: manis, indah, dan menyenangkan. Karena berasal dari pohon yang baik, akarnya kuat dan kokoh sedangkan cabangnya menjulang ke langit, menghasilkan buahnya setiap saat (Lihat surat Ibrahim: 24-25)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;1. &lt;strong&gt;Sampai pada hakekat Islam, yaitu penyerahan total pada Allah.&lt;/strong&gt; Berkata Ibnul Qoyyim, “Meninggalkan syahwat karena Allah adalah jalan paling selamat dari adzab Allah dan paling sukses meraih rahmat Allah. Perbendaharaan Allah, perhiasan kebaikan, lezatnya ketenangan, dan rindu pada Allah, senang dan damai dengan Allah tidak akan diraih oleh hati yang di dalamnya ada sekutu selain Allah, walaupun dia ahli ibadah, zuhud, dan ilmu. Karena Allah menolak menjadikan perbendaharaannya bagi hati yang bersekutu dan cita-cita yang berserikat. Allah memberikan perbendaharaan itu pada hati yang melihat kefakiran, kekayaan bersama Allah; kekayaan, kefakiran tanpa Allah; kemuliaan, kelemahan tanpa Allah, kehinaan, kemuliaan bersama Allah, kenikmatan, adzab tanpa Allah dan adzab adalah kenikmatan bersama Allah.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;2. &lt;strong&gt;Selamat dari cinta harta, kedudukan, dan popularitas.&lt;/strong&gt; Dari Ka’ab bin Malik r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah dua serigala lapar dikirim ke kambing lebih merusak melebihi ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan.” (HR At-Tirmidzi). Ka’ab bin Malik adalah seorang sahabat yang tidak ikut Perang Tabuk karena bersantai-santai. Akibatnya dia mendapat hukuman yang berat, diboikot Rasulullah saw. dan para sahabat selama 50 hari. Tapi dia jujur dan mengatakan apa adanya pada Rasulullah saw., tidak seperti yang dilakukan oleh kaum munafik. Pada saat kondisi sulit dan dunia terasa sempit, muncul tawaran suaka politik dari Raja Ghasan. Ka’ab ikhlas menerima ujian itu dan menolak segala tawaran politik Raja Ghasan dengan segala kemewahan dan popularitasnya. Dan dia selamat, lebih dari itu peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;3. &lt;strong&gt;Bebas dari perbuatan buruk dan keji.&lt;/strong&gt; Nabi Yusuf a.s. adalah salah satu contoh yang diselamatkan Allah swt. dari perbuatan keji dan mesum berkat keikhlasan beliau (lihat surat Yusuf: 24).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;4. &lt;strong&gt;Ikhlas menjadikan amal dunia secara umum sebagai ibadah yang berpahala.&lt;/strong&gt; Sesungguhnya banyak sekali amal umum yang jika kita niatkan karena Allah maka akan berpahala. Memberi makan, nafkah, dan menyalurkan hasrat seks pada istri, bersenda gurau dengan anak istri, berolah raga, rekreasi yang sehat, makan dan minum secara umum. Dari Abu Dzar r.a., sejumlah sahabat Rasulullah saw. berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah saw., para hartawan itu pergi dengan banyak pahala. Mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mengerjakan puasa sebagaimana kami puasa, dan bersedekah dengan kelebihan harta yang mereka miliki (sedang kami tidak mampu).” Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu untuk kalian yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih (Subhanallah) adalah sedekah bagi kalian, setiap takbir (Allahu Akbar) sedekah bagi kalian, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah bagi kalian, setiap tahlil (laa ilaaha illallah) adalah sedekah bagi kalian. Amar ma’ruf adalah sedekah, nahi mungkar sedekah, dan bersetubuh adalah sedekah pula.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah di antara kami apabila menyalurkan syahwatnya (kepada istri) juga mendapat pahala?” Jawab beliau, “Tahukah kalian, jika dia menyalurkannya pada yang haram (berzina), bukankah baginya ada dosa? Demikian pula jika ia menyalurkannya pada yang halal, maka baginya berpahala.” (HR Bukhari dan Muslim)&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;5. &lt;strong&gt;Keluar dari setiap kesempitan. &lt;/strong&gt;Kisah tiga orang yang terjebak dalam gua bukanlah sekedar kisah pelipur lara atau kisah pengantar tidur yang tanpa makna. Tiga orang yang mempersembahkan amalan unggulannya: pertama, &lt;em&gt;birrul walidain&lt;/em&gt;; kedua, wafa terhadap pegawainya; dan ketiga, pengendalian syahwat yang luar biasa. Keajaiban itu terjadi karena buah keikhlasan dan keajaiban itu dapat berulang setiap saat, jika syaratnya terpenuhi: ikhlas.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;Ada banyak sekali daftar kesempitan pada umat Islam. Kesempitan kemiskinan, kekurangan pangan, lapangan kerja, fitnah teroris, korupsi, pejabat yang culas, perzinahan dan pemerkosaan, mafia peradilan, premanisme dan banyak lagi pernik-pernik kesempitan. Sehingga untuk keluar dari semua kesempitan itu, dibutuhkan bukan hanya tiga orang yang ikhlas, tetapi sepuluh, seratus, seribu, sejuta, sepuluh juta, seratus juta, dan bahkan lebih dari itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;6. &lt;strong&gt;Kemenangan dari tipu daya syetan. &lt;/strong&gt;Diriwayatkan dari Al-Hasan berkata, “Ada sebuah pohon yang disembah manusia selain Allah. Maka seseorang mendatangi pohon tersebut dan berkata, ‘Saya akan tebang pohon itu.’ Maka ia mendekati pohon tersebut untuk menebangnya sebagai bentuk marahnya karena Allah. Maka syetan menemuinya dalam bentuk manusia dan berkata, ‘Engkau mau apa?’ Orang itu berkata, ‘Saya hendak menebang pohon ini karena disembah selain Allah.’ Syetan berkata, ‘Jika engkau tidak menyembahnya, maka bukankah orang lain yang menyembahnya tidak membahayakanmu?’ Berkata lelaki itu, “Saya tetap akan menebangnya.’&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;Berkata syetan, ‘Maukah aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik bagimu? Engkau tidak menebangnya dan engkau akan mendapatkan dua dinar setiap hari. Jika engkau bangun pagi, engkau akan dapatkan di bawah bantalmu.’ Berkata si lelaki itu, ‘Mungkinkah itu terjadi?’ Berkata syetan, ‘Saya yang menjaminnya.’&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;Maka kembalilah lelaki itu, dan setiap pagi mendapatkan dua dinar di bawah bantalnya. Pada suatu pagi ia tidak mendapatkan dua dinar di bawah bantalnya, sehingga marah dan akan kembali menebang pohon. Syetan menghadangnya dalam wujud aslinya dan berkata, ‘Engkau mau apa?’&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;Berkata lelaki itu, ‘Saya akan menebang pohon ini karena disembah selain Allah.’ Berkata syetan, ‘Engkau berdusta, engkau akan melakukan ini karena diputus jalan rezekimu.’ Tetapi lelaki itu memaksa akan menebangnya, syetan memukulnya, mencekik dan hampir mati, kemudian berkata, ‘Tahukah kau siapa saya?’ Maka ia memberitahukan bahwa dirinya adalah syetan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;Syetan berkata, ‘Engkau datang pada saat pertama, marah karena Allah. Sehingga saya tidak mampu melawanmu. Oleh karena itu saya menipumu dengan dua dinar. Dan engkau tertipu dan meninggalkannya. Dan pada saat engkau tidak mendapatkan dua dinar, engkau datang dan marah karena dua dinar tersebut, sehingga saya mampu mengalahkanmu.’”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;7. &lt;strong&gt;Meraih kecintaan Allah. &lt;/strong&gt;Ketika orang beriman beribadah, baik ibadah yang wajib maupun sunnah, dan dilakukan dengan ikhlas hanya karena Allah, pasti mereka meraih kecintaan Allah. Merekalah kekasih-kekasih Allah. Disebutkan dalam hadits Al-Qudsyi&lt;em&gt;, &lt;/em&gt;“Jika hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan yang sunnah, maka Aku mencintainya.”&lt;em&gt; &lt;/em&gt;(HR Al-Bukhari)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;8. &lt;strong&gt;Meraih kecintaan manusia&lt;/strong&gt;. Ketika Allah sudah mencintai hamba-Nya, maka seluruh makhluk dapat digerakkan untuk mencintai hamba tersebut. Rasulullah saw. bersabda, “Jika Allah Ta’ala mencintai seorang hamba, Allah memanggil Jibril, ‘Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia.’ Jibril pun mencintai Fulan. Kemudian Jibril memanggil penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai Fulan. Oleh karena itu cintailah Fulan.’ Maka penduduk langit mencintai Fulan. Kemudian ditetapkan baginya penerimaan di bumi.” (Muttafaqun ‘alaihi).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-indent: -0.25in; text-align: justify;"&gt;9. &lt;strong&gt;Meraih kemenangan di dunia dan pahala yang besar di akhirat&lt;/strong&gt; (lihat surat Ash-Shaff: 10-13). Orang beriman tentulah orang yang ikhlas dan berhak mendapat kemenangan dunia dan pahala besar di akhirat kelak.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0in 6pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga keimanan kita, menjaga keikhlasan kita dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad. Amiin.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-272527462382586467?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/272527462382586467/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=272527462382586467' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/272527462382586467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/272527462382586467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/buah-keikhlasan.html' title='Buah Keikhlasan'/><author><name>sigitkputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11637905021197640459</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i231.photobucket.com/albums/ee260/sigitkputra/sigit05.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-1982428289723422665</id><published>2008-07-08T13:25:00.000+07:00</published><updated>2008-07-08T13:31:18.749+07:00</updated><title type='text'>Malcolm X, Black Muslim Yang Tercerahkan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="postedby"&gt;Oleh: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/author/bugi" title="Profile of Mochamad Bugi"&gt;Mochamad Bugi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;dakwatuna.com -&lt;/strong&gt; Malcolm Little lahir di Omaha, 19 Mei 1925. Ayahnya Pendeta Baptis bernama Earl Little yang juga aktivis Universal Negro Improvement Association (UNIA). Ibunya bernama Louise little. Malcolm punya 5 orang saudara seibu dan 3 saudara lain ibu. &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Masa kecilnya dihabiskan di Lansing, Michigan. Keluarganya tinggal di sebuah ladang dengan kondisi yang memprihatinkan. Apalagi setelah ayahnya terbunuh oleh Ku Klux Klan di tahun 1931. Keluarga Little ini berantakan. Ibunya masuk rumah sakit jiwa. Malcolm bersaudara harus tinggal di panti asuhan dan sebagian lagi tinggal di bersama orang lain. Malcolm sendiri sempat empat kali tinggal di empat keluarga berbeda.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ketika SMP, Malcolm tergolong siswa yang pandai. Bahkan ia bercita-cita ingin menjadi pengacara. Namun, menurut guru Bahasa Inggrisnya, Ostrowski, cita-cita itu sangat tidak realistis bagi seorang anak negro. Gurunya itu menyarankan agar ia mengejar karir sebagai tukang kayu saja. Kenyataan pahit ini membuat Malcolm frustasi. Dengan membawa rasa frustasi itu, pada tahun 1941 ia pindah ke Boston ikut kakaknya seayah yang bernama Ella.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di Boston ia salah bergaul. Teman barunya, Shorty, mengajaknya menjadi tukang semir sepatu di sebuah balai dansa. Namun, mereka -bersama Sophia, pacar Malcolm yang berkulit putih– punya pekerjaan sampingan sebagai calo dan pelaku kriminal. Mulai dari mecuri hingga menggarong. Bahkan, Malcolm menjadi seorang pecandu narkotika. Sampai kemudian polisi menangkap mereka. Malcolm masuk bui.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tujuh tahun tinggal di penjara –dari tahun 1946-1952– menjadi berkah bagi Malcolm remaja. Ini titik balik pertama dalam hidupnya. Atas dorongan teman satu selnya, Bimbi, Malcolm remaja belajar membaca dan menulis. Ia melalap buku-buku yang ada di perpustakaan penjara. Bahkan, ia ikut berbagai kursus korespondensi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada tahun 1948, adiknya Reginald menyatakan bisa mengeluarkan Malcolm dari penjara dengan syarat ia berhenti merokok dan berhenti makan daging babi. Reginald berusaha mengislamkan Malcolm dan mengajaknya masuk ke dalam barisan Back Muslims atau The Nation of Islam yang didirikan oleh Elijah Muhammad.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ajaran Elijah Muhammad menarik minat Malcolm yang mengaku dirinya atheis. Ia setuju masuk The Nation of Islam yang bertujuan memisahkan ras kulit hitam dari ras kulit putih. Bahkan, Malcolm percaya betul dengan ajaran Elijah bahwa orang kulit putih bertabiat jahat dan tidak bisa dipercaya. Sebagai tanda keanggotaan, ia memakai nama Malcolm X. X adalah simbol yang dipakai pengikut Black Muslims untuk menyatakan bahwa mereka adalah generasi yang hilang. Manusia yang tercerabut dari asal-usulnya akibat perdagangan manusia yang dilakukan oleh orang kulit putih. Mereka diculik dari Afrika, dibawa dan dijual di Amerika sebagai budak.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/07/malcolmx.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 5px; float: right;" title="malcolmx" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2008/07/malcolmx.jpg" alt="" width="131" height="160" /&gt;&lt;/a&gt;Tahun 1952 Malcolm bebas bersyarat. Ia bekerja di pabrik mobil dan tinggal bersama kakaknya, Wilfred, yang juga anggota Black Muslims. Kemudian ia menemui Elijah Muhamamad di Chicago. Malcolm belajar Islam dan ajaran The Nation of Islam langsung dari sang pendiri. Setahun kemudian Malcolm kembali ke Boston untuk mengorganisasikan sebuah masjid. Atas keberhasilannya itu, ia diangkat menjadi imam Masjid Tujuh (Temple Seven) di Harlem.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selama sepuluh tahun kemudian The Nation of Islam berkembang pesat. Masjid bertambah sebagaimana bertambahnya pengikutnya. The Nation of Islam menjadi gerakan nasional berpengaruh. Malcolm menjadi juru bicara utama gerakan pemisahan warga kulit hitam dari warga kulit putih yang dicita-citakan Elijah Muhammad.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tahun 1958 Malcolm menikahi Betty X. Dari pernikahan selama 7 tahun mereka dikaruniai 4 orang anak: Attilah, Qubilah, Illyasah, dan Amiliah.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tahun 1959 gerakan The Nation of Islam dikenal secara nasional. Malcolm X pun mendapat publikasi yang luar biasa, melebihi Elijah Muhammad sang pendiri. Bahkan, media massa menyebut Malcolm X sebagai simbol kebencian rasial.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Elijah khawatir akan popularitas Malcolm X. Ia tak ingin pengaruh Malcolm semakin kuat. Karena itu, ia menarik dukungan. Ketika hubungan mereka semakin renggang, Elijah memecat Malcolm X dari The Nation of Islam. Bahkan, ia memerintahkan orang untuk membunuh Malcolm X.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setelah keluar dari The Nation of Islam, Malcolm X mendirikan organisasinya sendiri. Ia juga melakukan perjalanan haji ke Mekkah. Di Tanah Suci terbukalah cakrawala pikirannya. Ia baru tahu ajaran Islam yang sesungguhnya. Kebencian terhadap ras kulit putih adalah pemikiran yang keliru. Islam tidak membeda-bedakan warna kulit.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kebencian yang timbul antara kaum negro dan kaum kulit putih di Amerika bukanlah masalah perbedaan warna, tetapi karena kesalahan sikap dan perilaku. Karena itu, Malcolm X sadar bahwa satu-satunya cara mengatasi pertikaian rasial adalah dengan menerima prinsip kesamaan derajat manusia dan keesaan Tuhan. Inilah kebenaran yang diabaikan oleh bangsa kulit putih Amerika.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setelah berhaji dengan penuh kontemplasi, Malcolm X bersalin nama menjadi El Hajj Malik El Syabazz. Selama menjadi tamu pribadi Pangeran Faisal, Malik El Syabazz banyak berdiskusi tentang perbandingan ajaran Elijah Muhammad dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Ia sadar betul ajaran Elijah keliru. Selama berhaji ia merasa dirinya sebagai manusia yang utuh. Itu perasaan yang tidak pernah dirasakannya selama hidup di negerinya, Amerika. Di Mekkah semua orang saling menghargai dan tidak mempermasalahkan warna kulit.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada perjalanan keduanya ke Timur Tengah di tahun 1964, Malik El Syabazz menyempatkan diri berkunjung ke Afrika, negeri leluhurnya. Selama delapan pekan dia beraudiensi dengan Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, Presiden Nigeria Nnamoi Azikiwe, Presiden Tanzania Julius K. Nyarere, Presiden Guinea Sekou Toure, Presiden Kenya Jomo Kenyatta, dan Perdana Menteri Uganda Milton Obote. Ia juga bertemu dengan para pemimpin agama berkebangsaan Afrika, Arab, dan Asia, baik muslim dan non-muslim.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sepulangnya ke Amerika, ia punya perspektif yang berbeda dari sebelumnya. Ia kembali melakukan dakwahnya. Kali ini ia menyerukan kebenaran sejati yang ditemukannya di Mekkah. Kepada teman-temannya yang beragam –ada Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, Atheis, sosialis, kapitalis, komunis, kaum moderat, konservatif, dan ekstremis-ia katakan manusia akan memperoleh kedamaian sejati jika mau menyerahkan diri kepada Allah Sang Pencipta.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun, perubahan pemikiran itu bukan tanpa risiko. Malik El Syabazz dibayang-bayangi orang yang ingin membunuhnya. Khususnya orang-orang dari The Nation of Islam. Pada hari Ahad, 21 Februari 1965, Malik El Syabazz terbunuh. Tiga orang yang duduk dekat panggung menembaknya saat ia berpidato di sebuah pertemuan organisasi persatuan orang-orang Amerika Hitam di Harlem. Malik El Syabazz menghadap Allah swt. sebagai seorang muslim yang tercerahkan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-1982428289723422665?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/1982428289723422665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=1982428289723422665' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/1982428289723422665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/1982428289723422665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/malcolm-x-black-muslim-yang-tercerahkan.html' title='Malcolm X, Black Muslim Yang Tercerahkan'/><author><name>sigitkputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11637905021197640459</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i231.photobucket.com/albums/ee260/sigitkputra/sigit05.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8965553029368688846.post-8265644309480699648</id><published>2008-07-07T13:46:00.000+07:00</published><updated>2008-07-07T13:48:53.667+07:00</updated><title type='text'>welcome</title><content type='html'>Islam sebagai way of life&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8965553029368688846-8265644309480699648?l=istiqomah-id.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/feeds/8265644309480699648/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8965553029368688846&amp;postID=8265644309480699648' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/8265644309480699648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8965553029368688846/posts/default/8265644309480699648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://istiqomah-id.blogspot.com/2008/07/welcome.html' title='welcome'/><author><name>sigitkputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11637905021197640459</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://i231.photobucket.com/albums/ee260/sigitkputra/sigit05.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
